How to be brave
.. how can I love when I am afraid to fall ..
But watching in
stand alone ..
All of my doubt
suddenly goes away ..
Some how ...
Hampir tiap hari Melli sahabatku
mendengarkan lagu itu. Aku tau sekali, bagaimana psikologinya saat lagu itu
melintas di gendang telinganya. Pantas saja, lagu itu memiliki makna yang dalam
untuknya dan sebuah kisah di masa lalunya.
“Mel, aku mau ketemu sama kamu
nanti.”
“Okee J”
“Mau dijemput jam berapa?”
“Jam 1 siang bole juga.”
“Sip. Sampe ketemu ntar yah.”
“Siap bos.”
“Kiiiiikiiiiiii.....” teriak
Melli memanggilku. Tiba-tiba Melli menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang
sedang berada di sekitar koridor kelas.
“Heh, apa-apan sih Mel. Pagi-pagi
kok teriak-teriak. Ada apa ada apa?” tanyaku memanja dan sedikit geram.
“Sini-sini..” sambil menarik
tanganku dan mengajakku duduk. Hari ini Melli berbeda, mungkin dia lagi happy
atau ada sesuatu yang WOW hari ini, tebakku dalam hati.
“Kamu tau tadi aku di sms siapa?”
kata Melli sambil tersenyum indah. Tak biasanya juga Melli sebahagia ini.
“Hayoo siapa siapa?
Maaaaasssss....”
“Yappp.. Mas Riki. Masih inget
kaaan??”
“Ciyeee.. Sms gimana tadi. Di
ajak jadian yah.. hehehe.” godaku pada Melli.
“Haha,, ngarep banget. Cuma dia
nanti mau jemput aku. Amazing kan?”
“Hohoo.. Kereeen. Dandan yang
cantik yah sahabatku sayang.” kataku sambil memeluk Melli sahabatku. Aku begitu
bahagia melihatnya bahagia seperti hari ini.
Dan bel pulang pun berbunyi. Aku
tau inilah yang diharapkan Melli dari tadi.
“Temen-temen, ada yang bawa
parfum ngga? Aku butuh banget nih.”
“Aaaah, uda mau pulang aja pake
parfum.” sahut Adi salah satu teman kami.
“Terus masalah buat kamu. Aku
butuh parfum temaaaan, ada yang bawa?”
“Ini nih, pake parfumku.” Bisikku
pada Melli. Aku cuma berharap, hari ini Melli bahagia dan aku mendengar berita
indah esok hari.
Dari arah kejauhan terlihat
seorang cowo berhelm putih, berkacamata, dan berjaket hitam. Senyumnya yang
cerah selalu ditunggu-tunggu sahabatku itu.
“Mell...” sapanya..
“Hei Mas Rik.”
“Yuk naik yuk.”
“He.emb. Kita mau kemana?”
“Ke hatimu, boleh?”
“Aaah, Mas Riiki.”
Hari itu Melli tak langsung
pulang, Mas Riki mengajaknya pergi ke suatu tempat. Entah, aku tak tau apa nama
tempat itu. Tapi Melli sering menyebutnya Danau Cinta.
“Kita berhenti disini, yah?”
“Iya deh. Terus, ngapain?”
“Aku punya lagu enak buat kamu.
Semacam, lagu ini buat kamu.”
“Ohya, coba-coba. Puter dong.”
Kemudian Mas Riki memutar lagu
itu. Ternyata lagu yang dia putar adalah lagu Christina Perri yang
judulnya a Thousand Years. Semua orang
pasti taulah. Lagu itu original soundtracknya film Breaking Dawn part I.
“Kamu tau ngga artinya?”
“Heart beat fast , jantungku
berdetak kencang. Colors and promises, warna warni dan janji janji.”
“I have died everyday waiting for
you. Darlin don be afraid, I love you for a thousand years.” kata Mas Riki
sambil menggenggam tangan Melli. Mata Mas Riki menatap tajam, seakan memberi
tanda keseriusan akan kasih sayangnya pada Melli. Melli enggan beranjak dari
situasi tersebut.
Tak lama kemudian, mereka
meninggalkan tempat itu dan mengantar Melli pulang. Dalam hati Melli sebenarnya
tak ingin pulang, tapi dia bingung bagaimana mengatakannya pada Mas Riki.
“Sudah sampe Mel. Langsung mandi
terus sholat Asyar yah.”
“Iya mas. Makasih yah.”
“Samasama Mel. Aku pamit pulang
dulu yah.”
“Iya mas, hati-hati.”
Huh, hari ini berlangsung indah
bagi sahabatku. Semoga terulang di hari-hari berikutnya, doaku untuknya.
Malam
pun menjemput dunia. Lagi-lagi Mas Riki yang menjemputnya tadi menelepon.
Dalam
sebuah perbincangan telepon.
“Mel, sibuk ngga?”
“Engga kok mas.” jawab Melli
deg-degan.
“Huh, pengen nyanyi-nyanyi lagi
sama kamu.”
“Ciiee, nyanyi aja mas. Ayoayo
mau nyanyi apa?”
“Aku
ingin terbang tinggi, seperti elang. Melewati siang malam, menembus awan. Ini
tanganku untuk kau genggam, ini tubuhku untuk kau peluk. Ini bibirku untuk kau
cium, tapi tak bisa kau miliki.” #Lagu Elang by Dewa 19
“Maksudnya mas? Ada artinya
ngga?”
“Iya Mel, maaf aku ngga bisa
selalu nemenin kamu. Aku besok harus ke Jakarta. Membangun puing-puing asaku
disana.”
“Lalu, aku?”
“Kamu baik-baik yah disini.
Sayangi aku kalau kamu mau dan lupakan aku bila itu perlu.”
“Mas, kamu bilang apaan sih. Aku
ngga ngerti.” Tetes-tetes air mulai mengalir dari selaput mata Melli.
“Aku sayang kamu. Tapi aku ngga
mau LDR. Kamu disini boleh sama siapapun, tapi aku disana tidak akan dengan
siapapun.”
“Darlin dont be afraid I will
love you for a thousand years, I loved you for a thousand more.” pungkas Melli.
Malam itu berlangsung singkat,
memberi pesan perpisahan dua insan manusia. Tapi Melli tak berhenti. Di dalam
sholat Isyanya, dia berdoa :
“Ya
Allah, ketika Engkau pertemukan aku dengan Mas Riki. Aku yakin Engkau memiliki
maksud dan tujuan yang indah. Saat ini, Engkau pisahkan kami. Semoga ini
berakhir indah ya Allah. Tolong pertemukan kami kembali di lain waktu. Hamba
sangat menyayanginya. Amiiin..”
Keesokan harinya saat di sekolah.
Melli berjalan sambil menunduk. Matanya memerah dan sedikit lebam.
“Mel, kamu kenapa?” tanyaku
sambil memegang kedua pipinya. Waktu selalu cepat berubah, kemarin Melli
bahagia banget, sekarang jadi berbalik 180 derajat. Huh, kenapa?
“Huhuuu... Kikiiii.. Aku sayang
kamu.” Melli merangkulku sambil menangis. Aku mulai bingung.
“Iya sayang, aku juga sayang kamu
sahabatku. Kenapa?”
“Aku kehilangan Elang.” katanya
dengan berat. Entah kenapa, yang ada dalam otakku adalah Mas Riki.
“Mas Riki, Mel?” tanyaku. Namun,
Melli tak menjawab, malahan dia semakin menjerit.
“Mas Riki hari ini ke Jakarta.
Dan aku gatau lagi, kapan dia balik. Aku takut dia tidak menyayangiku lagi,
Kii.”
“Jangan takut, disini masih
banyak yang menyayangimu. Contohnya aku, teman-teman, dan orangtuamu, Mel!”
Seketika kami diam, Melli hanya
berusaha mengusap air matanya dan mencoba tersenyum kembali. Sesungguhnya,
kebahagiaan tidak hanya didapat dari satu orang saja. Banyak sekali kebahagiaan
di sekitar kita, tapi kita jarang menyadarinya.
Aku sangat memahami sahabatku
itu. Ku ajak dia tertawa dan ku katakan, “Percayalah Elangmu akan kembali Mel!”
Dan Melli hanya tersenyum.
*kritik dan saran :3
No comments:
Post a Comment