Thursday, May 2, 2013

Maafkan Aku

“Mel..” suara Syarif menghampiri mejaku yang berada di pojok kiri paling belakang, sedang mejanya di pojok kanan paling belakang.
“Mel, kamu kok diem aja?”
“Ngga papa.” sahutku agak cuek. Sebenarnya aku paling bosan saat diajak ngobrol sama Syarif. Karena topik yang dibahas selalu saja sama.
“Oh ya, kamu kapan bisa nerima Irul?”
“Aku ngga suka ya sama dia. Lagian kita masih kecil, belum waktunya buat kaya gitu.” spontan sekali aku mengatakan itu. Karena pada saat itu, kami masih kelas VIII SMP.
“Dia anaknya baik lo, dia tuh suka banget sama kamu. Kasih kesempatan kek. Susah amet.”
“Rif, aku bilang engga ya engga. Tolong jangan memaksaku.”