Thursday, May 2, 2013

Maafkan Aku

“Mel..” suara Syarif menghampiri mejaku yang berada di pojok kiri paling belakang, sedang mejanya di pojok kanan paling belakang.
“Mel, kamu kok diem aja?”
“Ngga papa.” sahutku agak cuek. Sebenarnya aku paling bosan saat diajak ngobrol sama Syarif. Karena topik yang dibahas selalu saja sama.
“Oh ya, kamu kapan bisa nerima Irul?”
“Aku ngga suka ya sama dia. Lagian kita masih kecil, belum waktunya buat kaya gitu.” spontan sekali aku mengatakan itu. Karena pada saat itu, kami masih kelas VIII SMP.
“Dia anaknya baik lo, dia tuh suka banget sama kamu. Kasih kesempatan kek. Susah amet.”
“Rif, aku bilang engga ya engga. Tolong jangan memaksaku.”
 

Sebuah keributan kecil mewarnai pagi ini di sekolah. Begitu bel masuk terdengar, obrolan kami pun berakhir.
“My, kemana aja sih   kok baru dateng.” tanyaku pada sahabatku Amy.
“Taukan kalo mandinya harus antri?”
Aku baru sadar jika sahabat tercintaku ini tidak tinggal bersama kedua orangtuanya, tapi tinggal di pondok yang tidak jauh dari sekolah kami.
“Hmm,, iya iya. Tadi aku disamperin Syarif.” kataku sambil melirik ke arah Syarif.
“Hah? Dia lagi. Masih membahas hal yang sama?”
“Iya, lalu aku harus gimana?”
“Udah, ngga usah diladenin. Cuekin aja.”
 
Saat-saat di sekolah sangat menyiksaku kala itu. Saat jam pulang sekolah, tiba-tiba seluruh penghuni kelas keluar kelas  lebih awal. Dan,, wooow.... tinggal aku dan Irul disana.
“Mel..” Irul berdiri di depan pintu kelas.
“Minggir, aku mau lewat.”
“Aku mau bicara sama kamu. Duduk!” katanya sambil menarikku duduk di bawah papan tulis. Dan dia berada di sebelah kananku.
“Mau ngomong apa sih?”
“Hehehe, aku malu.”
“Ahh, lama. Uda aku mau pulang dulu! Temen-temenku uda nungguin diluar. Ga penting deh.” Kataku sambil beranjak dari tempat itu dan mencoba membuka pintu. Ternyata ada yang menahannya dari luar. Ku intip dari sebuah jendela kecil, aku merasa ini sudah direncanakan oleh Irul, Syarif, dkk. Ah, sialnya aku hari itu.
“Ga bisa dibuka kan? Udah deh, aku mau ngomong sebentar.” Katanya mendekatiku. Akhirnya aku berdiri di dekat pintu seraya berusaha mendorong pintu agar terbuka. Sedangkan dia berdiri disampingku.
 
“Hey yang diluar! Siapapun! Bukain doooong...”
Beberapa kali aku mengucapkan itu, tapi tak ada reaksi sama sekali. Tak ada seseorang yang membukakan pintu untukku, termasuk teman-temanku.
“Mel, kamu mau ngga jadi pacarku?”
“Hey.. bukain !”
“Mel, jawab dulu nanti aku yang bukain!”
“Engga mau, uda aku jawabkan. Sekarang bukain aku mau pulang!”
“Mel.. liat mata aku deh. Aku sayang loh sama kamu.”
“Tapi aku engga. Udah bukain!”
Beberapa detik dia melihatku lesu, dan akhirnya pintu itu dibukanya.
“Uda bro, bukain!.” Katanya.
Disaat aku keluar, aku begitu malu. Ternyata diluar banyak sekali anak-anak yang menungguku. Lihat saja, sahabat-sahabatku yang sedang senyum-senyum sendiri di depan kelas serta beberapa anggota gank Irul yang bikin muak.
“Kalian kok ngga bantuin aku sih?” kataku kecewa.
“Loooh..”
“Udah, ayo pulang!.” Ajakku. Dan kamipun pergi mengambil sepeda ke arah parkiran.

Hari demi hari begitu lambat. Aku merasa tersiksa dengan keadaan ini. Disaat pelajaran Bimbingan Konseling.
“Irul, uda dicukur rambutnya. Gitu dong jadi cakepkan? “ ujar bu Ayu.
“Iya, bu. Kan si Irul lagi jatuh cinta, bu. Jadi biar keliatan cakepan dikit, makanya dicukur. Heheheh” kata Syarif. Dan seluruh kelas tertawa.
“Jatuh cinta sama siapa kamu, Rul?”
Aku melihat ke arahnya dan dia hanya tersenyum tak punya dosa. “Melli, buuu...”
Sahut seluruh penghuni kelas. Seketika aku terkaget dan melihat ke seluruh sudut ruangan. Sungguh malu rasanya. Aku merasa lelah dipermalukan seperti ini. Kemarin dengan teman-teman, sekarang dengan bu Ayu. Huft...!
“Iya tah, Mel? Mel Melli. Mas Irul cakep itu loh. Ngga usah malu dong.” Ledek bu Ayu. Aku semakin tak berkutik. Aku hanya diam saja sambil menutup muka dengan buku.
“Sabar, Mel. Everything gonna be alright.” Hibur Amy sahabatku.
Akhirnya pelajaran bu Ayu berakhir. Inilah saat yang dinanti-nantikan.

Saat istirahat, seluruh ketua kelas berkumpul di depan ruang TU. Ternyata ada sebuah pengumuman bahwa akan diadakan lomba-lomba antar kelas. Salah satunya lomba kebersihan kelas.
“Teman-teman, karena akan ada lomba kebersihan kelas, bagaimana kalau hari Minggu besok kita berkumpul di sekolah jam 9 untuk kerja bakti membersihkan dan memperindah kelas? Kalian setuju?”

“My, hari Minggu besok aku mampir ke pondokmu dulu yah. Nanti barengan aja berangkatnya. Aku takut sendiri. Heheh”
“Iya, bawa apa? Motor tah nguklik?”
“Dianter aja deh. Aku masih takut bawa motor.”
“Okelah.. ayok pulang!.”

Hari Minggu itu pun datang. Ternyata beberapa kelas juga melakukan hal yang sama dengan kelasku, yaitu kerja bakti. Sehingga sekolah terlihat ramai sekali, meski hari itu hari Minggu. Semua yang datang membersihkan kelas, mulai dari membersihkan jendela, bangku-kursi, menyapu, mengepel, menata taman, hingga mengecat kursi di depan kelas yang terbuat dari batu bata. Beberapa gambar yang sudah dibeli juga sudah dipasang. Ada kotak P3K dan sebuah kotak surat yang menjadi pelengkap. Akhirnya pekerjaan itu selesai tepat jam 2 siang. Aku dan Amy segera pulang, dan ternyata di depan gerbang ada Irul bersama dengan seorang temannya. Sebut saja Oki.
“Mel, aku mau ngomong.” Katanya.
Tapi aku dan Amy menghindar dan mengayuh sepeda kami sedikit lebih cepat. Senang sekali akhirnya bisa terhindar dari dia. Saat di perempatan ....
“Mel, dia ngikutin kita pakai sepeda motor. Jangan noleh-jangan noleh. Lewat jalan pintas aja biar mereka ngga tau.”
“Huh, dia lagi. Aduuuh. Aku takut My.”
“Gapapa sayang, santai. Jangan panik. Belok kiri aja.”
Aku terus mengayuh, tapi dia masih terlihat dibelakang. Aku capek, aku lelah. Akhirnya aku sampai di pondok Amy dan Ayah sudah menunggu untuk menjemputku, sedangkan Irul berhenti di bawah pohon mangga sambil mengintip kami.

Aku tidak sadar, ternyata saat perjalanan pulangku. Dia masih mengekor dibelakang. Entah, apa maunya!

Malam mulai menjelang, tiba-tiba suara ketukan pintu meleawati gendang suaraku.
“Siapa?” aku berjalan menuju pintu. Dan..... aku menemukan Irul sudah duduk di atas motor di depan rumahku.
“Kok kamu disini? Udah malem. Pulang sana!!”
“Ngga mau. Aku mau ngomong sama kamu.”
“Aku sudah bosan mendengar kalimatmu yang selalu sama itu! Sudah pulang sana..” lalu aku pergi meninggalkannya. Dia adalah cowok pertama di sekolahku yang tau dimana rumahku. Mungkin gara-gara dia mengekorku waktu pulang tadi. Huh, aku sangat membencinya, sangat!

Namun perjuangannya tidak pernah berakhir. Keesokan harinya saat di sekolah....
“Mel, kamu kok ngusir aku sih?”
“Karena kamu tidak diharapkan.” Jawabku cuek.
“My, ayo ke kantin. Aku lapar.” Ajakku sambil keluar dari bangku. Kami menuju kantin.
Setelah beberapa menit, kami kembali ke kelas. Tapi kami tidak berani masuk. Di dalam kelas sudah ada Irul, Syarif, dan beberapapa anggota gank yang lain yang siap mendiktatorku untuk bisa jadi pasangan Irul. Hari-hari begitu membosankan, rasanya aku ingin sekali cepat-cepat naik kelas dan tidak bertemu dia lagi.

Akhirnya waktu yang dinanti-nantikan tiba. Saatnya ujian kenaikan kelas. Di kelas yang baru, aku menemukan suasana baru. Namun Amy masih satu kelas dengan Irul. Hahaha, aku sedikit menertawai penderitaan sahabatku itu. Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat yang baik.

Dalam suasana baru itu, aku menemukan orang-orang yang baru juga. Seperti, Lili, Didit, dan Gian. Mereka teman-teman baruku. Tapi aku tak pernah melupakan sahabat-sahabatku di kels VII dan VIII. Kami masih sering jajan bareng dan pulang bareng.

Aku sering bercerita banyak tentang aku saat duduk di kelas VIII dulu pada Didit. Dia teman cowok yang paling pengertian padaku. Dengan berjalannya waktu, entah kenapa aku semakin ingin dekat dengannya. Namun di lain sisi, Irul masih sering juga mengunjungi kelas baruku. Aku tak ambil pusing tentang si Irul. Aku tidak menyukainya, apalagi menjadi kekasihnya. NO , OGAH!!

“Dit, aku takut. Waktu pulang sekolah tadi, dia mengikuti aku lagi. Dia mengancamku.”
“Kamu yang sabar yaa. Aku bisa bantu apa?”
“Hmm, engga. Aku akan baik-baik saja.”
“Iya, jangan takut. Ada aku..”
Cuplikan beberapa pesan singkatku padanya. Aku takut dan benar-benar takut saat itu.

Di sela-sela percakapanku dan Didit di SMS, sungguh aku tak pernah menyangka ini akan terjadi.
“Mengapa sulit mengaku cinta padahal ia ada.” Katanya...
“Loh, looh. Galau yaa? Kenapa Dit?”
“Mungkinkah kau tau rasa cinta yang kini membara, yang masih tersimpan dalam lubuk jiwa. Ingin ku nyatakan lewat kata yang mesra untukmu. Namun ku tak kuasa untuk melakukannya.”
“Dit? Are you okay?”
“Mungkin hanya lewat lagu ini...”
“Kamu kenapa Dit?”
“Aku suka sama kamu, hehehe... Maaf ya?”
“Ngga perlu minta maaf kok. Kamu ngga salah kawan.”
“Terus, jawaban kamu?”
“Aku juga suka sama kamu.”
“Mau jadi pacarku? Aku akan berusaha melindungimu, Mel.”
“Yakin?”
“Yakin, sangat yakin.”
“Iyaaa.... Aku menyayangimu..”
“Aku juga menyayangimu.. Besok ngga usah bawa sepeda yah. Minta di anter aja. Aku besok bawa motor kok. Ntar tak anter ke rumah, sama mau tau rumahmu dimana. Hehhe..”
“Iyaa, Dit. Makasi sayang ...”

Aku merasa mulai bahagia saat detik ini. Aku sudah bisa sedikit tersenyum. Namun, masalah pun datang lagi.

Beberapa hari setelah kebersamaanku dengan Didit, berita tersebut terdengar di seluruh penjuru sekolah, termasuk Irul. Awalnya dia menerima keadaan ini. Sampai pada suatu hari, aku melihat dia beradu mulut dengan Didit. Tak hanya beradu mulut, tapi juga beradu kekuatan. Mereka berdua bertengkar di dalam kelasku ketika aku keluar bersama Lili.

“Uda, sekarang putusin Melli. Aku ga suka dengan hubungan kalian!”
“Terserah kamu mau ga suka atau ngga. Apa hakmu menyuruhku putus sama Melli?”
Irul mulai marah dan Didit terpancing meladeni Irul yang lagi kebakaran itu. Perseteruan hebat itu dimulai. Beberapa teman yang bertemu denganku memberitahukan hal ini. Aduuh, aku mulai pusing. Aku takut menghadap guru BP. Akhirnya aku hanya bisa menangis di sudut ruang keperasi siswa.

Beberapa menit berlalu aku kembali ke kelas. Kulihat Didit duduk dibangku belakang sambil memegangi bajunya yang sobek, akibat perseteruan tadi. Aku menghampirinya. Mengulurkan tangan padanya. Hamper aku tak kuat memandangi setiap detil matanya.
“Dit, maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi kaya gini?”
“Aku kan uda janji bakal ngelindungin kamu, Mel. Udahlah.. guru BP ga bakal denger kok. Kalopun denger, kamu gak aka nada di masalah ini.”
“Maafin aku ya Dit.”
“Gapapa Melly….. ”

Bel pulangpun terdengar…
“Ayo pulang Dit.”
“Iya, kamu duluan sayang. Aku masih ada urusan.”
“Sama Irul lagi? Udah ah, gausa dilanjutin. Gaada gunanya sayang.”
“Ini masalahku sama dia, udah kamu jangan ikutan. Aku menyayangimu.”
“Aku juga menyayangimu, jangan membuatku menghawatirkan keadaanmu.”
“Jangan membuatku menjadi seperti pengecut dan pecundang.”
“Jangan membuatku memproduksi air mata berlebih.”
“Sudahlah, pulang sana!”
“Iyadeh, kamu baik-baik ya?”
“Iya…”

Beberapa menit setelah bel itu, ternyata Didit dan Irul melanjutkan perseteruan itu. Hampir habis dayaku melihat mereka. Akhirnya, aku datang di tengah-tengah mereka. Aku mencoba menjadi mediator untuk mereka.
“Berhenti! Berhenti membuatku menjadi penyebab semua ini. Jangan seperti orang bodoh, Rul. Aku sekarang uda sama DIdit. Jadi tolong hargai hubungan kami.”
“Aku mencintaimu, Mel.” Sahut Irul.
“Percaya, aku yang lebih mencintaimu, Mel.” Kata DIdit
Cek-cok itu terus berlanjut, sampai Irul berhenti menyahuti kata-kataku.
“Okedeh, aku salah. Maaf ya, aku uda ngerusak hubungan kalian. Mungkin aku yang terlalu psyco. Aku terlalu mencintai Melly, sedangkan Melly mencintai orang lain. Maaf pernah ada di antara kalian.”

-SELESAI-

No comments:

Post a Comment