Pada hari yang hampir usai
Ku ucap salam pada langit tak bertuan itu
Pada matahari yang mulai pudar juga
Ku pandangi indanya,
Lalu kupanggil ia,
Senja
Pada gemuruh rintik yang terdengar dari pojok jendela
Ku lawan beku diri dengan secangkir kopi bernada
Yang dari atas ada asap berterbangan
Sambil menari menyambut
Datangnya ia,
Senja
Tantang tingginya, parasnya, warnanya
Suasana yang menawan, yang tak ingin ku lewatkan
Dia yang aku nantikan
Ku temui dia di pintu rumah
Senja
Hari itu senjaku berubah
Merintik bukan lagi merintik
Tapi raungan juga ikut mewarnai nya
Senjaku tak sendiri
Dia berteman dengan,
Hujan
Hujan tak berhenti membelakangi nya
Menutupi setiap detail kemolekan warnanya
Senjaku murung, marah,
Mungkin senja hari ini diam di langit
Menunda untuk keluar
Karna satu hal yang ku sebut
Hujan
Hujan mungkin tak setiap hari datang
Ia juga membawa kebaikan yang sama untuk bumi
Dengan nada jatuhnya air
Dengan warna beningnya air
Dengan suasana tentramnya
Yang ia berikan
Ah, aku jadi tidak membenci dia,
Kini aku mencoba menghargai keduanya
Mengagumi keindahan keduanya
Melihaat senja dari sisi warnanya
Mengagumi hujan dari sisi ketentramannya
Pada hujan dilangit kemerahan
Kalian indah
Menenangkan jiwa
Membuat insan mengagumi Penciptanya
Membuat insan tau betapa kecilnya ia
Membuat insan ingat
Tuhan memberi segala-galanya untuk direnungkan
Salam dariku, senja dan hujan
Kini senja dan hujan bersatu
Berkolaborasi membentuk formasi baru
Berpegang janji untuk berdua
Bersama menghiasi langit petang
Membentang berdansa hingga sudut katulistiwa
Tanpa lelah, tanpa keluh kesah
Yang mereka tau hanyalah nyanyian alam
Hingga menggiring mereka pada keabadian
No comments:
Post a Comment