18tahun
sudah saya berdiri dan menikmati segala anugerah yang ada di bumi pertiwi ini.
Keindahan alamnya sudah bukan rahasia lagi. Akan banyak teman-teman temukan
kekayaan alam yang tiada duanya di belahan bumi manapun. Tengoklah Bali, yang
sudah menjadi international destination,
kemudian Raja Ampat, yang terkenal memiliki pemandangan bawah laut yang
eksotis, dan masih banyak sekali tempat-tempat yang belum terjamah.
![]() |
| Raja Ampat |
Kemudian,
orang-orang Indonesia yang hebat, bisa menjadi orang yang berpengaruh di Luar
Negeri. Seperti Habibie, yang sangat disegani orang-orang Jerman. Kemudian
Obama, yang kini menjadi presiden di Negara Adidaya, Merry Riana, yang menjadi
orang sukses dimasa mudanya yang dirintis di Negara tetangga.
Apa
yang kurang? Indonesia Negara yang kaya. Dari segi SDA dan SDM, Indonesia sudah
tidak diragukan lagi. Namun, beberapa hari ini, saya seringkali menumukan
artikel, berita, dan informasi-informasi yang membuat saya prihatin pada bangsa
ini. Sepertinya, masalah yang dihadapi oleh pertiwi ini semakin kompleks
seiiring berjalannya waktu, seiiring meluasnya globalisasi dan perkembangan
iptek.
Pertama,
suatu malam saya sedang belajar bersama teman-teman saya, karena saya sedang menghadapi Ujian Akhir Semester. Kemudian
seorang teman memnghubungi saya, dia bilang ada pembegalan di daerah dekat
dengan wilayah dimana saya tinggal.
Kejadian ini terjadi dini hari, sekitar jam 2.00 pagi. Korbannya dua orang
muda-mudi, dan katanya mereka dibegal, dimintain harta benda, dan meninggal ditempat.
Sungguh tragis memang. Terlepas dari siapa muda-mudi itu, disini kita bisa
melihat, bahwa ekonomi menjadi alasan kriminalitas. Orang-orang kita itu
bukannya tidak bisa, tapi mereka tidak mau. Mereka hanya ingin menerima uang
tanpa mau bekerja keras, mereka hanya ingin yang instan. Tapi disisi lain,
memang diakui sekali, lowongan pekerjaan juga berkurang seiring dengan
terciptanya mesin-mesin yang menggantikan tugas manusia sebagai tenaga kerja.
Kedua,
dihari berikutnya, malam hari juga, seorang teman yang lain membagi berita,
yang isinya juga penculikan – namun gagal. Modusnya, si penculik nanya alamat
karena mau jual barang kesana. Terus si korban (perempuan) disuruh masuk mobil
untuk mengecek barang tersebut. Beruntung tak lama kemudian si korban dipanggil
temannya. Sehingga penculikan ini digagalkan. Membaca berita ini, saya langsung
teringat tentang film yang belum lama saya tonton, “Taken”. Entah mengapa, saya
langsung negative thinking kalau ini
adalah modus baru woman trafficking.
Sungguh mengenaskan, lagi-lagi ini adalah soal perut, iya ekonomi. Ketika yang
haram saja susah didapatkan, apalagi yang halal? Pemikiran yang jahiliyah. Dan
saya harap teman-teman semua waspada untuk ini. Setiap orang memiliki hak
hidup, hak untuk menikmati hidup secara normal. Manusia bukan baju yang bisa
diperdagangkan. Semoga mereka semua insaf dan kembali ke jalan yang benar.
![]() |
| Berkelana di rimba jalanan |
Ketiga,
secara berurutan, ini terjadi saat paginya. Saya membaca informasi yang di-share di line oleh teman-teman saya.
Cukup memprihatinkan. Mengapa seorang bayi dalam gendongan pengemis itu selalu
tertidur pulas? Kita tau sendiri kan, pengemis kini bukan lagi sebuah pekerjaan
yang hina, bahkan pengemis dijadikan lahan bisnis. Dan asal teman-teman tau,
anak yang tertidur pulas itu tadi, sebelumnya sudah dicekokin vodka dan heroin.
Karena mana mungkin seorang anak kecil akan tahan berlama-lama berada
digendongan seseorang, pasti dia akan merasa bosankan. Bahkan sebenarnya anak
kecil itu tidak semuanya anak kandung, tapi anak sewaan, hasil penculikan atau
yang lainnya. Bagaimana perasaan teman-teman saat membaca yang bagian ini?
Kesal, marah, kasian? Iya, sama. Bayi itu tidak berdosa, tapi malah mereka yang
menjadi korbannya. Jadi, jangan sembarangan memberi uang kepada pengemis.
Awalnya kita hanya ingin berbagi dan memberi, tapi akhirnya kita membunuh bayi
itu. Mungkin kata-kata saya sedikit kejam. Tapi mari kita lihat dari sisi
bisnis. Bisnis tidak akan berlanjut ketika tidak ada hasil. Nah, yang saya
maksud adalah, ketika kita berhenti memberi ‘sembarangan’, berarti kita
berhenti untuk menumbangkan korban-korban baru.
Keempat,
ini mungkin sudah mainstream di
telinga teman-teman. Iya, seorang anak SD tapi sudah pacaran. Siapa yang harus
disalahkan? Dia/si anak, orangtua, guru, lingkungan, media sosial, pemerintah,
atau siapa? Sebenarnya semua saling berhubungan dan memberi pengaruh. Bagaimana
mereka bisa melakukan ini? Semua selalu menjadi tanda tanya yang jawabannya
akan terus berhubungan satu sama lain. Dari segi orangtua yang kurang pengawasan,
terlalu memberi fasilitas mewah seperti gadget canggih, dan kurangnya
komunikasi. Kemudian dari segi guru, guru itu bukan Cuma sekedar mengajar, tapi
juga mendidik. Jangan hanya sampaikan materi yang ujung-ujungnya mereka bisa
mempelajarinya sendiri lewat google,
tapi didiklah, bagaimana cari beretika yang baik, apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan, anggap seperti anak sendiri. Bukan setelah keluar kelas, sudah
seperti tiada tanggung jawab lagi. Mereka adalah modal bangsa, estafet baik
buruknya negeri kita 30tahun lagi ada ditangan mereka.
Itulah
yang saya lihat di 18tahun saya ini. Kita dilahirkan untuk dapat memberi
manfaat bagi oranglain, bukan sebaliknya. Kita dihalirkan untuk berlomba-lomba
berbuat kebaikan, bukan sebaliknya. Indonesia ini kaya, mari kita olah sebaik
mungkin, seproduktif mungkin untuk menghasilkan produk-produk yang dapat
diandalkan dikancah internasional. Terlepas dari SDA, SDM Indonesia juga perlu
dibenahi. Terutama dalam hal moralitas. Mari saling memberi contoh. Media-media
televisi yang kurang produktif dan kurang memberi makna, sebaiknya diadakan
evaluasi kembali. Perubahan itu bukan mustahil, kalau kita lakukan
bersama-sama. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?


Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
ReplyDeletewww.fikrimaulanaa.com
makasi ..
Delete