Friday, February 20, 2015

Kacamata 18 Melihat Indonesia



                18tahun sudah saya berdiri dan menikmati segala anugerah yang ada di bumi pertiwi ini. Keindahan alamnya sudah bukan rahasia lagi. Akan banyak teman-teman temukan kekayaan alam yang tiada duanya di belahan bumi manapun. Tengoklah Bali, yang sudah menjadi international destination, kemudian Raja Ampat, yang terkenal memiliki pemandangan bawah laut yang eksotis, dan masih banyak sekali tempat-tempat yang belum terjamah.
Raja Ampat
                Kemudian, orang-orang Indonesia yang hebat, bisa menjadi orang yang berpengaruh di Luar Negeri. Seperti Habibie, yang sangat disegani orang-orang Jerman. Kemudian Obama, yang kini menjadi presiden di Negara Adidaya, Merry Riana, yang menjadi orang sukses dimasa mudanya yang dirintis di Negara tetangga.
                Apa yang kurang? Indonesia Negara yang kaya. Dari segi SDA dan SDM, Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Namun, beberapa hari ini, saya seringkali menumukan artikel, berita, dan informasi-informasi yang membuat saya prihatin pada bangsa ini. Sepertinya, masalah yang dihadapi oleh pertiwi ini semakin kompleks seiiring berjalannya waktu, seiiring meluasnya globalisasi dan perkembangan iptek.

               
Disini saya hanya ingin bercerita dan sekedar menanggapi dari kacamata saya, bukan bermaksud untuk menghakimi, karena itu bukan wilayah saya. Saya hanya ingin membuka kacamata teman-teman yang membaca tulisan saya ini. Saya harap kita semua bisa berbenah diri, dan bersama-sama bersinergi mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Mungkin Indonesia yang lebih baik itu adalah visi klasik yang sudah sering didengungkan, jadi mari kita ubah mindset kita, yaitu mengubah Indoenesia menjadi lebih Tangguh!
                Pertama, suatu malam saya sedang belajar bersama teman-teman saya, karena saya sedang  menghadapi Ujian Akhir Semester. Kemudian seorang teman memnghubungi saya, dia bilang ada pembegalan di daerah dekat dengan  wilayah dimana saya tinggal. Kejadian ini terjadi dini hari, sekitar jam 2.00 pagi. Korbannya dua orang muda-mudi, dan katanya mereka dibegal, dimintain harta benda, dan meninggal ditempat. Sungguh tragis memang. Terlepas dari siapa muda-mudi itu, disini kita bisa melihat, bahwa ekonomi menjadi alasan kriminalitas. Orang-orang kita itu bukannya tidak bisa, tapi mereka tidak mau. Mereka hanya ingin menerima uang tanpa mau bekerja keras, mereka hanya ingin yang instan. Tapi disisi lain, memang diakui sekali, lowongan pekerjaan juga berkurang seiring dengan terciptanya mesin-mesin yang menggantikan tugas manusia sebagai tenaga kerja.
                Kedua, dihari berikutnya, malam hari juga, seorang teman yang lain membagi berita, yang isinya juga penculikan – namun gagal. Modusnya, si penculik nanya alamat karena mau jual barang kesana. Terus si korban (perempuan) disuruh masuk mobil untuk mengecek barang tersebut. Beruntung tak lama kemudian si korban dipanggil temannya. Sehingga penculikan ini digagalkan. Membaca berita ini, saya langsung teringat tentang film yang belum lama saya tonton, “Taken”. Entah mengapa, saya langsung negative thinking kalau ini adalah modus baru woman trafficking. Sungguh mengenaskan, lagi-lagi ini adalah soal perut, iya ekonomi. Ketika yang haram saja susah didapatkan, apalagi yang halal? Pemikiran yang jahiliyah. Dan saya harap teman-teman semua waspada untuk ini. Setiap orang memiliki hak hidup, hak untuk menikmati hidup secara normal. Manusia bukan baju yang bisa diperdagangkan. Semoga mereka semua insaf dan kembali ke jalan yang benar.
Berkelana di rimba jalanan
                Ketiga, secara berurutan, ini terjadi saat paginya. Saya membaca informasi yang di-share di line oleh teman-teman saya. Cukup memprihatinkan. Mengapa seorang bayi dalam gendongan pengemis itu selalu tertidur pulas? Kita tau sendiri kan, pengemis kini bukan lagi sebuah pekerjaan yang hina, bahkan pengemis dijadikan lahan bisnis. Dan asal teman-teman tau, anak yang tertidur pulas itu tadi, sebelumnya sudah dicekokin vodka dan heroin. Karena mana mungkin seorang anak kecil akan tahan berlama-lama berada digendongan seseorang, pasti dia akan merasa bosankan. Bahkan sebenarnya anak kecil itu tidak semuanya anak kandung, tapi anak sewaan, hasil penculikan atau yang lainnya. Bagaimana perasaan teman-teman saat membaca yang bagian ini? Kesal, marah, kasian? Iya, sama. Bayi itu tidak berdosa, tapi malah mereka yang menjadi korbannya. Jadi, jangan sembarangan memberi uang kepada pengemis. Awalnya kita hanya ingin berbagi dan memberi, tapi akhirnya kita membunuh bayi itu. Mungkin kata-kata saya sedikit kejam. Tapi mari kita lihat dari sisi bisnis. Bisnis tidak akan berlanjut ketika tidak ada hasil. Nah, yang saya maksud adalah, ketika kita berhenti memberi ‘sembarangan’, berarti kita berhenti untuk menumbangkan korban-korban baru.
                Keempat, ini mungkin sudah mainstream di telinga teman-teman. Iya, seorang anak SD tapi sudah pacaran. Siapa yang harus disalahkan? Dia/si anak, orangtua, guru, lingkungan, media sosial, pemerintah, atau siapa? Sebenarnya semua saling berhubungan dan memberi pengaruh. Bagaimana mereka bisa melakukan ini? Semua selalu menjadi tanda tanya yang jawabannya akan terus berhubungan satu sama lain. Dari segi orangtua yang kurang pengawasan, terlalu memberi fasilitas mewah seperti gadget canggih, dan kurangnya komunikasi. Kemudian dari segi guru, guru itu bukan Cuma sekedar mengajar, tapi juga mendidik. Jangan hanya sampaikan materi yang ujung-ujungnya mereka bisa mempelajarinya sendiri lewat google, tapi didiklah, bagaimana cari beretika yang baik, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, anggap seperti anak sendiri. Bukan setelah keluar kelas, sudah seperti tiada tanggung jawab lagi. Mereka adalah modal bangsa, estafet baik buruknya negeri kita 30tahun lagi ada ditangan mereka.
                Itulah yang saya lihat di 18tahun saya ini. Kita dilahirkan untuk dapat memberi manfaat bagi oranglain, bukan sebaliknya. Kita dihalirkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan, bukan sebaliknya. Indonesia ini kaya, mari kita olah sebaik mungkin, seproduktif mungkin untuk menghasilkan produk-produk yang dapat diandalkan dikancah internasional. Terlepas dari SDA, SDM Indonesia juga perlu dibenahi. Terutama dalam hal moralitas. Mari saling memberi contoh. Media-media televisi yang kurang produktif dan kurang memberi makna, sebaiknya diadakan evaluasi kembali. Perubahan itu bukan mustahil, kalau kita lakukan bersama-sama. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

2 comments: