Saturday, November 2, 2013

Luka dari Medika


Aku ingin pergi, tapi kamu selalu mengejarku. Aku ingin lari, tapi kamu menarikku lagi. Apa maumu? Membuatku terluka lagi?
            Matahari mulai menampakkan sinarnya. Embun-embun mulai jatuh dari daun dan dahan, segarnya. Sahutan alam mewarnai pagi ini. Duniaku dimulai, hari baruku dimulai. Aku bergegas menata kamar tidur yang mirip gudang penyimpanan, kemudian sholat, mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Selalu saja seperti itu.
            Sekolah ini telah menjadi rumah kedua untukku. Tempat dimana aku bertemu pengajar, teman, buku, pr, tugas, dan apalah. Mereka membuatku lebih bermakna di hidup ini. Apalagi Medika yang selalu ada buatku. Panggil saja dika. Seorang cowok yang berhasil memikatku. Aku sangat mencintainya.
            “Lauraaa..”, panggil Dika dari arah pintu gerbang. Hampir lima menit aku dengar suaranya, tapi ku tengok dari jendela, tak ada satupun yang membukakan pintu. Sementara aku masih menata perlengkapan sekolah.
           
“Langsung buka aja gerbangnya, ngga dikunci kok”, teriakku dari arah kamarku, dilantai dua. Semua keluarga sudah kenal baik sama Dika, bahkan papaku suka sekali sama dia. Tiap malam minggu pas dia apel ke rumah, dia selalu bawa martabak telor kesukaan papa. Emang si Dika pinter banget ngerebut hati calon mertua. Hehe…
            10 menit berlalu. Kesibukanku dengan pakaian seragam, buku-buku pelajaran, sepatu, dan kawan-kawannya sudah rampung. Sekarang waktunya berangkat ke sekolah. Tak lupa buat minta izin ke papa sama mama, biar ilmunya gampang diterima dan berkah, amin. Pas keluar, kasian banget liat muka si Dika yang uda bosen nungguin permasurinya.
            “Ayok, lama banget sih”, katanya sambil manyun.
            “Hehe, biarin. Biar kamu lama di rumahku”, godaku. Entah, hari ini ada yang berbeda dari Dika. Biasanya dia tak pernah semanyun ini waktu nungguin aku dandan. Sepanjang jalan berlalu dengan kesunyian. Tiap pertanyaan yang aku keluarkan, tak dijawab. Ada apa dengan Dika?
            Setelah sampai di sekolah, aku tak langsung turun dari motornya. Aku menatap matanya sebentar. Yah, memang berbeda, aku melihat ada yang dia sembunyikan. Tapi apa?
            Hari-hari di sekolah sudah berlalu. Tapi aku ngga pulang sama Dika. Soalnya ada kerja kelompok. Jadi Dika pulang duluan. “Hati-hati ya Dik”, kataku mesra padanya. Tetap saja, dia hanya membalasku dengan senyuman asamnya. Apa hanya gara-gara menunggu saja, kamu bisa seperti ini, Dika?
            “Pa, bisa jemput Laura? Aku abis kerja kelompok, jadi aku ngga pulang sama Dika”.
            “Iya, bentar ya. Posisi kamu dimana, Nak?”
            “Di sekolah kok, Pa. Abis ini mau selesai”
            “Iya, Nak. Tunggu”, sedikit percakapanku dengan Papa ditelepon.
            Tak lama, Papa datang. Aku langsung masuk mobil dan menikmati perjalanan dengan Papa. Tiba-tiba papa kaget. Kutanya, “Kenapa, Pa?”
            “Papa kayak ngelihat Dika boncengan sama cewek barusan, trus dia belok kanan.”
            “Ah masak sih, Pa. papa salah lihat kali. Mungkin juga itu saudaranya. Ngga boleh suudzon dong, Pa.”
            “Iya, Lauraa. Kamu selalu seperti itu. Hati-hati ya sama Dika, jangan terlalu sayang. Sayangnya yang besar sama Allah, sama Papa-Mama aja. Kalo sama Dika, sewajarnya. Kalian masih belia.”
            “Iya Papaku sayaaaang”
            Beberapa menit sudah berlalu, dan tibalah kita ditujuan, yaitu gubuk Papa sama Mama. Aku langsung menuju kamar, bersih diri, makan, kemudian belajar. Bagiku, rumah ini hanyalah tempat persinggahan buat ketemu sama malaikat-malaikat kiriman Tuhan, yang sayangnya tak terbatas, yang pelukannya selalu menghangatkanku disetiap suasana, yang perkataannya itu doa buat putrinya, yah dialah Papa dan Mama. Merekalah surga dan nerakaku.
            Biologi, kimia, matematika, dan fisika, seperti nasi buatku. Makanan pokok, wajib, dan fardhu ain buat dikonsumsi setiap harinya. Betapa puyengnya aku. Ditambah lagi, jarum jam menunjuk angka 9, tapi Dika belum ngabarin aku. Sejak di sekolah tadi.
            Maka, aku mutusin buat ngabarin dia duluan. Aku telpon, ngga diangkat. Di sms, ngga dibales. Kemana dia? Apa bener tadi yang dibilang papa, kalo papa ngeliat Dika boncengin cewek lain? Tapi siapa? Masak Dika selingkuh? Teka-teki yang hanya waktu yang dapat menjawab. Hatiku, tak akan berpaling darimu Dika.
            Tak ada Dika untuk malam ini. Sepi, hening, tak bersuara. Gelap, runyam, bingung, galau, dan semuanya jadi satu. Kalo dijumlah, hasilnya Cuma ada 4 huruf, D-I-K-A. Dari pada aku terus-terusan mikirin Dika yang ngilang, aku putar mp3. Dan kemudian tertidur.
            Beberapa hari berlalu. Kemudian tepat 10 hari setelah peristiwa ini, Dika terlihat semakin menjauhiku. Aku introspeksi diri, apa yang salah dari aku. Tapi Dika tak mau dengar. Dia tetap pada keputusannya. Yasudah, kalau memang harus mengakhiri.
            Beberapa orang teman, memberitahuku kalau ternyata selama Dika pacaran sama aku, dia sering keluar juga sama cewek lain. Yah, mentang-mentang aku ngga boleh keluar malam, jadinya Dika cari cewek lain yang bisa diajaknya clubbing.
            Aku mencoba untuk menghindar setelah tau kebusukannya. Namun hati yang selalu mencintainya, tak mudah untuk memudar. Biarlah pisau itu mengiris, darah bercucuran, luka yang tak kunjung sembuh, tapi dalam hati masih tersimpan nama Dika. Sebegitu bodohkahnya aku?
            Sebulan berlalu. Aku benar-benar tanpa Dika, dan aku masih bertahan. Aku baik-baik saja. Dan namanya mulai terkikis dari hatiku. Tapi, Dika mengetuk pintuku lagi. Dan aku mempersilahkannya masuk. Aku masih mencintai Dika, jujur saja.
            “Maaf ya, Ra. Aku udah jahat sama kamu. Aku ngga bermaksud buat selingkuhin kamu. Aku sayangnya sama kamu aja. cewek-cewek yang lagi deket sama aku, ternyata Cuma manfaatin uang nyokap sama bokapku aja, gaada yang tulus kayak kamu. Masih mau nerima aku lagi?”
            “Dik, selama bumi ini masih berputar. Bahu ini tetap untukmu bersandar. Aku siap menghapus air matamu, melebarkan senyummu. Tapi tolong, jangan hancurkan aku lagi.”
            “Aku tak akan membuatmu bersedih lagi. Biar ku kubur masalah itu. Ayo kita bangun lagi yang baru.”
            “Aku percaya kamu”
            “Itu yang aku mau, sayang”
            Aku pacaran lagi sama Dika. Akhirnya pangeranku kembali lagi. Dia sekarang jadi idola papaku lagi. Yah, seenggaknya, hari-hariku tak seburuk sebulan yang lalu. Hidupku terasa lebih berwarna, berkat kamu, Dika.
            “Ra, pulang sekolah mampir ke Florist yuk. Beli bunga.”
            “Buat siapa?”
“ Buat mamaku. Mamaku besok ulang tahun. Kamu besok dateng ya, kita mau ngadain makan malam. Ajak papa mama kamu juga.”
            “Kok sama mama papa sih. Emang ngga papa?”
            “Ngga papa, orang mama yang bilang sendiri.”
            “Iya deh, aku mau dandan yang cantik buat Dika”
            “Cieeehh, seperti apapun Laura, Laura tetep cantik, dan selalu cantik buat aku”, katanya merayu. Semakin meleleh dibuatnya.
            Acara makan malam pun dimulai. Tiup lilin dan potong kue menjadi agenda utama perayaan ulang tahun si calon ibu mertuaku ini. Mamanya Dika udah cukup dekat sama aku. Tiap aku ke rumah, mama Dika sering nyuruh aku ke dapur buat masak bareng dia. Seneng deh rasanya.
            Orangtuaku dan orangtua Dika setuju dengan hubungan kami. Mereka selalu menggoda kami, tak pernah berhenti, sehingga membuat kami malu. Tapi senang rasanya, jika bisa lebih sering makan malam seperti ini. Keluarga besar yang harmonis.
            Makan malam pun berakhir. Aku izin ke toilet dulu, buat cuci tangan. Eh ternyata ada hapenya Dika tergeletak di wasatafel. Aku coba buka, eh ternyata diluar dugaanku. Dia masih sering smsn sama telfonan sama cewek-cewek itu. Bahkan pake panggil sayang-sayang segala. Hati siapa yang tak hancur? Aku mendadak bad mood. Tapi dengan segala kedewasaanku, aku berhasil menyembunyikan kehancurannku. Aku masih tersenyum dan berusahan tersenyum di depan mereka.
            Sesampai di rumah, si Dika sms, bilang makasi. Aku juga bales bilang makasi. Maksudku, makasi disini bukan makasi buat makan malamnya, tapi makasi buat segala kebohongan. Aku sengaja gamau nanya, biarkan dia jujur. Sampai kapan dia mau seperti ini?
            Waktu jalan sama aku, tiba-tiba ada yang telfon.
            “Siapa? Kenapa ngga diangkat?”
            “Bukan siapa-siapa, ngga penting juga”. Dia kembali menelfon, tapi tetap ngga diangkat Dika. Aku makin berburuk sangka. Kenapa sih dia ngga mau jujur sama aku. aku salah apa ke dia ya Tuhan.
            “Yauda, mana hapenya. Biar aku aja yang angkat.”
            “Jangan, ngga usah diangkat”. Aku melihat muka Dika penuh khawatir. Aku tahu Dika. Aku tahu yang kamu sembunyikan. Cobalah jujur, dan semuanya akan berakhir dengan indah. Beberapa menit, hape Dika bergetar lagi. Aku langsung menyahut kemudian mengangkat teleponnya. Nama kontaknya Keyla.
            “Halo, Dik jemput aku dong. Aku mau beli sesuatu nih.”
            “Maaf, ini siapa ya?”
            “Hei, ini siapa? Kok cewek sih yang angkat. Dika kemana?”
            “Dika di sebelahku. Ini siapa?”
            “Keyla. Pacarnya Dika”. Aku langsung membisu.
            “Siapa?”, ku pencet tombol loudspeaker.
            “KEYLA. PACARNYA DIKA”. Dika langsung menatapku. Dia menarik tanganku seraya merebut hapenya. Pertengkaran pun dimulai.
            “Ternyata kamu tetap sama. Ku kira kamu akan berubah. Aku tempatmu menangis, bersedih, tapi tak tertawa. Mana? Tertawamu tak pernah kau bagi denganku. Aku pernah protes? Engga Dik. Karena aku tulus sayang sama kamu. Tapi apa yang aku dapet?”
            “Aku ngga bermaksud buat ngelukain hati kamu. Maafin aku.”
            “Lalu apa yang kamu mau dari aku. kamu datang dan pergi sesukamu. Kamu menoreh luka dibagian manapun. Mungkin sekarang waktunya aku benar-benar pergi. Dan setelah aku pergi, aku tidak yakin bisa kembali lagi.”
            “Jangan, jangan pergi. Aku selalu bodoh saat tak bersamamu. Aku lebih memilihmu daripada cewek-cewek diluar sana. Mereka hanya cinta sesaat. Tapi yang bener-bener aku cinta dan sayang dari hati itu kamu, Ra. Orangtua kita uda setuju kan?”
            “Ini masalahku, bukan masalah orangtuaku. Yang nanti menjalani kehidupan ini aku sendiri. Sekarang terserah kamu.”
            “Laura, aku benar-benar minta maaf dengan segala kerendahan hati. Terimakasih untuk semua waktu dan kasih sayangmu untukku. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk memilikimu.”
            “Samasama, Dik.”
            Kemudian, kami pulang. Tanpa senyuman. Yang tersisa hanya luka…..

No comments:

Post a Comment