BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1.Kehidupan
Masyarakat Indonesia Pasca 21 Mei 1998
Reformasi merupakan formulasi menuju
Indonesia baru dengan tatanan baru. Buah perjuangan dari reformasi itu tidak
dapat dipetik dalam waktu yang singkat, namun membutuhkan proses dan waktu.Pada
tanggal 21 Mei 1998, pukul 10.00 WIB di Istana Negara, Persiden Soeharto
meletakkan jabatannya sebagai presiden di hadapan ketua dan beberapaanggota MA.
Pada tanggal itu pula, dan berdasarkan Pasal 8 UUD 1945, presidenmenunjuk
wakilnya B.J Habibie untuk menggantikannya menjadi persiden, serta pelantikan
dilakukan di depan ketua MA dan para anggotanya. Maka pada saat itu era
reformasi lahir.
3.2.Masa
Pemerintahan B.J. Habibie
Akibat semakin meningkatnya desakan dan
unjuk rasa massa, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto
menyatakan berhenti sebagai presiden RI. Sesuai dengan ketentuan dalam UUd
1945, presiden menyerahkan jabatan presiden kepada wakil presiden, Burhanuddin
Jusuf Habibie.
3.2.1. Perkembangan
Politik
Ada berbagai langkah-langkah kebijakan
yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie setelah
terbentuknya Kabinet Reformasi Pembangunan. Kebijakan politik yang diambil
yaitu: dengan dibebaskannya para tahanan politik pada masa Orde Baru,
peningkatan kebebasan pers, pembentukan parpol dan percepatan Pemilu dari tahun
2003 ke tahun 1999, penyelesaian masalah Timor-Timur, pengusutan kekayaan Soeharto
dan kroni-kroninya, pemberian gelar Pahlawan Reformasi bagi korban Trisakti.
3.2.1.1 Pembebasan Tahanan Politik
Secara umum tindakan pembebasan tahanan
politik meningkatkan legitimasi Habibie baik di dalam maupun di luar negeri.
Hal ini terlihat dengan diberikannya amnesti dan abolisi yang merupakan langkah
penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Diantara yang dibebaskan tahanan
politik kaum separatis dan tokoh-tokoh tua mantan PKI, yang telah ditahan lebih dari 30 tahun.
Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang lain yang ditahan
setelah Insiden Tanjung Priok.
Selain tokoh itu tokoh aktivis petisi 50
(kelompok yang sebagian besar terdiri dari mantan jendral yang menuduh Soeharto
melanggar perinsip Pancasila dan Dwi Fungsi ABRI).
Dr Sri Bintang Pamungkas, ketua Partai
PUDI dan Dr Mochatar Pakpahan ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan K. H
Abdurrahman Wahid merupakan segelintir dari tokoh-tokoh yang dibebaskan
Habibie. Selain itu Habibie mencabut Undang-Undang Subversi dan menyatakan
mendukung budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama
ini menentang Orde Baru.
3.2.1.2
Kebebasan Pers
Dalam hal ini, pemerintah memberikan
kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya, sehingga semasa pemerintahan
Habibie ini, banyak sekali bermunculan media massa. Demikian pula kebebasan
pers ini dilengkapi pula oleh kebebasan berasosiasi organisasi pers sehingga
organisasi alternatif seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat
melakukan kegiatannya. Sejauh ini tidak ada pembredelan-pembredelan terhadap
media tidak seperti pada masa Orde Baru. Pers Indonesia dalam era
pasca-Soeharto memang memperoleh kebebasan yang amat lebar, pemberitaan yang
menyangkut sisi positif dan negatif kebijakan pemerintah sudah tidak lagi hal
yang dianggap tabu, yang seringkali sulit ditemukan batasannya. Bahkan seorang
pengamat Indonesia dari Ohio State University, William Liddle mengaku sempat
shock menyaksikan isi berita televisi baik swasta maupun pemerintah dan membaca
isi koran di Jakarta, yang kesemuanya seolah-olah menampilkan kebebasan dalam
penyampaian berita, dimana hal seperti ini tidak pernah dijumpai sebelumnya
pada saat kekuasaan Orde Baru.
Cara Habibie memberikan kebebasan pada
Pers adalah dengan mencabut SIUPP.
3.2.1.3
Pembentukan Parpol dan Percepatan Pemilu
Presiden RI ketiga ini melakukan
perubahan dibidang politik lainnya diantaranya mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999
tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999
tentang MPR dan DPR.
Itulah sebabnya setahun setelah
reformasi Pemilihan Umum dilaksanakan bahkan menjelang Pemilu 1999, Partai
Politik yang terdaftar mencapai 141 dan setelah diverifikasi oleh Tim 11 Komisi
Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98 partai, namun yang memenuhi syarat mengikuti
Pemilu hanya 48 Parpol saja. Selanjutnya tanggal 7 Juni 1999, diselenggarakan
Pemilihan Umum Multipartai. Dalam pemilihan ini, yang hasilnya disahkan pada
tanggal 3 Agustus 1999, 10 Partai Politik terbesar pemenang Pemilu di DPR,
adalah:
1. Partai
Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarno Putri meraih
153 kursi
2. Partai
Golkar pimpinan Akbar Tanjung meraih 120 kursi
3. Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Hamzah Haz meraih 58 Kursi
4. Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan H. Matori Abdul Djalil meraih 51 kursi
5. Partai
Amanat Nasional (PAN) pimpinan Amein Rais meraih 34 Kursi
6. Partai
Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahendra meraih 13 kursi
7. Partai
Keadilan (PK) pimpinan Nurmahmudi Ismail meraih 7 kursi
8. Partai
Damai Kasih Bangsa (PDKB) pimpinan Manase Malo meraih 5 Kursi
9. Partai
Nahdlatur Ummat pimpinan Sjukron Ma’mun meraih 5 kursi
10. Partai
Keadilan dan Persatuan (PKP) pimpinan Jendral (Purn) Edi Sudradjat meraih 4
kursi
3.2.1.4
Penyelesaian Masalah Timor Timur
Sejak terjadinya insident Santa Cruz,
dunia Internasional memberikan tekanan berat kepada Indonesia dalam masalah hak
asasi manusia di Tim-Tim. Bagi Habibie Timor-Timur adalah kerikil dalam sepatu
yang merepotkan pemerintahannya, sehingga Habibie mengambil sikap pro aktif
dengan menawarkan dua pilihan bagi penyelesaian Timor-Timur yaitu di satu pihak
memberikan setatus khusus dengan otonomi luas dan dilain pihak memisahkan diri
dari RI. Otonomi luas berarti diberikan
kewenangan atas berbagai bidang seperti : politik ekonomi budaya dan lain-lain
kecuali dalam hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan serta moneter dan
fiskal. Sedangkan memisahkan diri berarti secara demokratis dan konstitusional
serta secara terhorman dan damai lepas dari NKRI.
Sebulan menjabat sebagai Presiden
habibie telah membebaskan tahanan politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao
dan Ramos Horta.
Sementara itu di Dili pada tanggal 21
April 1999, kelompok pro kemerdekaan dan pro intergrasi menandatangani
kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto, Wakil Ketua Komnas
HAM Djoko Soegianto dan Uskup Baucau
Mgr. Basilio do Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan
Menlu Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani
kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui sikap
rakyat Timor-Timur dalam memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999
pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur berlangsung aman. Namun keesokan
harinya suasana tidak menentu, kerusuhan dimana-mana. Suasana semakin bertambah
buruk setelah hasil penentuan pendapat diumumkan pada tanggal 4 September 1999
yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat Timor-Timur memilih merdeka.
Pada awalnya Presiden Habibie
berkeyakinan bahwa rakyat Timor-Timur lebih memilih opsi pertama, namun
kenyataannya keyakinan itu salah, dimana sejarah mencatat bahwa sebagian besar
rakyat Timor-Timur memilih lepas dari NKRI. Lepasnya Timor-Timur dari NKRI
berdampak pada daerah lain yang juga ingin melepaskan diri dari NKRI seperti
tuntutan dari GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya, selain itu Pemerintah RI harus
menanggung gelombang pengungsi Timor-Timur yang pro Indonesia di daerah
perbatasan yaitu di Atambua. Masalah Timor-Timur tidaklah sesederhana seperti
yang diperkirakan Habibie karena adanya bentrokan senjata antara kelompok pro
dan kontra kemerdekaan di mana kelompok kontra ini masuk ke dalam kelompok
militan yang melakukan teror pembunuhan dan pembakaran pada warga sipil. Tiga
pastor yang tewas adalah pastor Hilario, Fransisco, dan dewanto. Situasi yang
tidak aman di Tim-Tim memaksa ribuan penduduk mengungsi ke Timor Barat, ketidak
mampuan Indonesia mencegah teror, menciptakan keamanan mendorong Indonesia
harus menerima pasukan internasional.
3.2.1.5
Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya
Mengenai masalah KKN, terutama yang
melibatkan Mantan Presiden Soeharto pemerintah dinilai tidak serius
menanganinya dimana proses untuk mengadili Soeharto berjalan sangat lambat.
Bahkan, pemerintah dianggap gagal dalam melaksanakan Tap MPR No. XI / MPR /
1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme, terutama mengenai pengusutan kekayaan Mantan Presiden Soeharto,
keluarga dan kroni-kroninya. Padahal mengenai hal ini, Presiden Habibie -
dengan Instruksi Presiden No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 – telah
mengintruksikan Jaksa Agung Baru, Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum
memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang diduga telah melakukan praktik KKN.
Namun hasilnya tidak memuaskan karena pada tanggal 11 Oktober 1999, pejabat
Jaksa Agung Ismudjoko mengeluarkan SP3, yang menyatakan bahwa penyidikan
terhadap Soeharto yang berkaitan dengan masalah dana yayasan dihentikan.
Alasannya, Kejagung tidak menemukan cukup bukti untuk melanjutkan penyidikan,
kecuali menemukan bukti-bukti baru. Sedangkan dengan kasus lainnya tidak ada
kejelasan.
Bersumber dari masalah di atas, yaitu
pemerintah dinilai gagal dalam melaksanakan agenda Reformasi untuk memeriksa
harta Soeharto dan mengadilinya. Hal ini berdampak pada aksi demontrasi saat
Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nopember 1998, dan aksi ini mengakibatkan
bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Parahnya pada saat penutupan Sidang
Istimewa MPR, Jumat (13/11/1998) malam. Rangkaian penembakan membabi-buta
berlangsung sejak pukul 15.45 WIB sampai tengah malam. Darah berceceran di
kawasan Semanggi, yang jaraknya hanya satu kilometer dari tempat wakil rakyat
bersidang. Sampai sabtu dini hari, tercatat lima mahasiswa tewas dan 253
mahasiswa luka-luka. Karena banyaknya korban akibat bentrokan di kawasan
Semanggi maka bentrokan ini diberi nama ”Semanggi Berdarah” atau ”Tragedi
Semanggi”.
3.2.1.6
Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti
Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada
para mahasiswa korban Trisakti yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal
12 Mei 1998 merupakan hal positif yang dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie,
dimana penghargaan ini mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan
kepada perjuangan dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.
3.2.2.
Perkembangan Ekonomi
Sejak berlangusngnya krisis moneter
pertengahan tahun 1997, ekonomi Indonesia mulai mengalami keterpurukan. Keadaan
perekonomian makin memburuk dan kesejahteraan rakyat makin menurun. Pengangguran
juga semakin luas. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintahan Habibie
untuk memperbaiki perekonomian Indonesia diantaranya :
a. Merekapitulasi
perbankan
b. Merekonstruksi
perekonomian Indonesia
c. Melikuidasi
beberapa bank bermasalah
d. Menaikkan
nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga di bawah Rp 10.000,-
e. Mengimplementasikan
reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
Dalam rangka meningkatkan kegiatan
ekonomi masyarakat, pemerintah juga memperhatikan harga produk pertanian
Indonesia, karena selama masa pemerintahan Orde Baru maupun sejak krisis 1997
tidak pernah berpihak kepada petani. Apabila pendapatan petani meningkat, maka
permintaan pertanian terhadap barang non pertanian juga meningkat. Dengan
ditetapkannya harga produk pertanian akan member semangat bangkitnya para
pengusaha untuk mengembangkan kegiatan perusahaannya.
Pihak pemerintah telah berusaha untuk
membawa Indonesia keluar dari krisis. Tetapi tidak mungkin dapat dilakukan
dalam waktu yang singkat. Oleh sebab itu untuk mengatasi krisis, presiden
sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia, memerlukan
penyelesaian secara bertahap berdasarkan skala prioritas.
3.2.3
Perkembangan Sosial
Kerusuhan antar kelompok yang sudah
bermunculan sejak tahun 90-an semakin meluas dan brutal, konflik antar kelompok
sering terkait dengan agama seperti di Purworejo juni 1998 kaum muslim
menyerang lima gereja, di Jember adanya perusakan terhadap toko-toko milik
cina, di Cilacap muncul kerusuhan anti cina, adanya teror ninja bertopeng
melanda Jawa Timur dari malang sampai Banyuangi. Isu santet menghantui
masyarakat kemudian di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri seperti Aceh,
begitu juga dengan Papua semakin keras keinginan membebaskan diri. Juli 1998
OPM mengibarkan bendera bintang kejora sehingga mendapatkan perlawanan fisik
dari TNI.
3.3
Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Latar belakang terbentuknya berawal dari
pemilu tahun 1999. Pada pemilu tersebut PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri
berhasil meraih suara terbanyak (sekitar 35%). Tetapi karena jabatan presiden
masih harus dipilih oleh MPR, Megawati tidak secara langsung menjadi presiden.
Dalam mekanisme pemilihan presiden di MPR, Abdurrahman Wahid yang juga pimpinan
PKB terpilih menjadi presiden Indonesia ke 4. Sedangkan Megawati kemudian
dipilih Abdurrahman Wahid sebagai wakil presiden.
3.3.1
Perkembangan Politik
¥ Kebijakan
reformasi pemerintahan, dengan pembubaran Departemen Penerangan dan Departemen
Sosial
¥ Seringnya
presiden melakukan lawatan ke luar negeri. Langkah ini banyak menimbulkan
pertentangan dalam masyarakat
¥ Masih
berkembangnya gerakan-gerakan separatis seperti GAM, RMS dan OPM
¥ Abdurrahman
Wahid mengusulkan agar Tap MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang malarang
marxisme-laninisme dicabut
¥ Upaya
Abdurrahman Wahid untuk mereformasi dan mengeluarkan militer dari ruang sosial
politik menyebabkan hubungan presiden
dan militer merenggang
¥ Terjadinya
beragam konflik kepentingan
¥ Keluarnya
kebijakan pemerintah bahwa Imlek sebagai hari libur Nasional
¥ Pada
tanggal 1 februari 2001, DPR mengeluarkan nota yang berisi perlunya dilakukan
siding khusus MPR dimana pemakzulan presiden dapat dilakukan
¥ Beberapa
menteri yang dianggap berseberangan kemudian dipecat
¥ Karena
banyak menimbulkan controversial, MPR memutuskan akan digelar sidang istimewa
pada tanggal 23 jili 2001
¥ Sebagai
bentuk perlawanan terhadap rencana SI MPR, presiden kemudian mandahului dengan
mengeluarkan dekrit
¥ Pada
tanggal 23 juli 2001, SI MPR digelar dengan agenda pokok pemakzulan presiden.
Sesuai UUD, maka ia digantikan oleh wakilnya Megawati
3.3.2
Perkembangan Ekonomi
¥ Secara
keseluruhan , perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang pemerintahan gusdur masih
belum stabil
¥ Hingga
tahun 2001 posisi rupiah senantiasa berada diatas 10.000 per dolar AS.
¥ Tingkat
pertumbuhan ekonomi hingga akhir jatuhnya pemerintahan Abdurrahman Wahid hanya
sebesar 3%
¥ Kasus
bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
3.3.3
Perkembangan Sosial
Untuk mengatasi masalah disintegrasi dan
konflik antarumat beragama, Gus Dur memberikan kebebasan dalam kehidupan
bermasyarakat dan beragama. Hak itu dibuktikan dengan adanya beberapa keputusan
presiden yang dikeluarkan, yaitu :
a. Keputusan
Presiden No. 6 tahun 2000 mengenai Pemulihan Hak Sipil Penganut Agama Konghucu.
Etnis Cina yang selama Orde Baru dibatasi, maka dengan adanya Keppres No. 6
dapat memiliki kebebasan dalam menganut agama maupun menggelar budayanya secara
terbuka seperti misalnya pertunjukan Barongsai.
b. Menetapkan
Tahun Baru Cina (IMLEK) sebagai hari besar agama, sehingga menjadi hari libur
nasional.
Disamping pembaharuan-pembaharuan di
atas, Gus Dur juga mengeluarkan berbagai kebijakan yang dinilai Kontroversial
dengan MPR dan DPR, yang dianggap berjalan sendiri, tanpa mau menaati aturan
ketatanegaraan, melainkan diselesaikan sendiri berdasarkan pendapat kerabat
dekatnya, bukan menurut aturan konstitusi negara. Kebijakan-kebijakan yang
menimbulkan kontroversial dari berbagai kalangan yaitu :
i.
Pencopotan Kapolri Jenderal Polisi
Roesmanhadi yang dianggap Orde Baru.
ii.
Pencopotan Kapuspen Hankam Mayjen TNI
Sudradjat, yang dilatarbelakangi oleh adanya pernyataan bahwa Presiden bukan
merupakan Panglima Tinggi.
iii.
Pencopotan Wiranto sebagai Menkopolkam,
yang dilatarbelakangi oleh hubungan yang tidak harmonis dengan Gus Dur.
iv.
Mengeluarkan pengumuman tentang menteri
Kabinet Pembangunan Nasional yang terlibat KKN sehingga mempengaruhi kinerja
kabinet menjadi merosot.
v.
Gus Dur menyetujui nama Irian Jaya
berubah menjadi Papua dan mengizinkan pengibaran bendera Bintang Kejora.
3.4
Masa Pemerintahan Megawati Soekarno Putri
Naiknya megawati sebagai presiden ke
5 terjadi setelah Gus Dur menyatakan pengunduran dirinya sebagai presiden
akibat tekanan dan demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat. Hamzah Haz terpilih
sebagai wakil presiden setelah Votting di MPR/DPR. Presiden Megawati Soekarno
Puteri dilantik menjadi Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001, yang merupakan
presiden pertama wanita di Indonesia. Ia merupakan presiden pertama peletak dasar
ke arah kehidupan demokrasi. Pembaharuan yang dilakukan sebagian besar di
bidang ekonomi dan politik, sebab pada pemerintahannya, masalah yang dihadapi
kebanyakan merupakan warisan pemerintahan Orde Baru yaitu masalah krisis
ekonomi dan penegakan hukum.
3.4.1
Perkembangan Politik
a. Mengadakan
pemilu yang bersifat demokratis yang dilaksanakan tahun 2004 dan melalui dua
periode yaitu :
Ø Periode
pertama untuk memilih anggota legislatif secara langsung.
Ø Periode
kedua untuk memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.
Pemilu
tahun 2004 merupakan pemilu pertama yang dilaksanakan secara langsung artinya
rakyat langsung memilih pilihannya.
b. Pemerintahan
Megawati berakhir setelah hasil pemilu 2004 menempatkan pasangan Susilo Bambang
Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai pemenang. Hal ini merupakan babak baru
pemerintahan di Indonesia dimana Presiden dan Wakil Presiden terpilih dipilih
langsung oleh rakyat.
3.4.2
Perkembangan Ekonomi
Untuk mengatasi masalah ekonomi yang
tidak stabil, ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan Megawati yaitu :
a. Untuk
mengatasi utang luar negeri sebesar 150,80 milyar US$ yang merupakan warisan
Orde baru, dikeluarkan kebijakan yang berupa penundaan pembayaran utang sebesar
US$ 5,8 milyar, sehingga hutang luar negeri dapat berkurang US$ 34,66 milyar.
b. Untuk
mengatasi krisis moneter, Megawati berhasil menaikkan pendapatan per kapita
sebesar US$ 930.
c. Kurs
mata uang rupiah dapat diturunkan menjadi Rp 8.500,00.
d. Untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menekan nilai inflasi, dikeluarkan
kebijakan yang berupa privatisasi terhadap BUMN dengan melakukan penjualan
saham Indosat sehingga hutang luar negeri dapat berkurang.
e. Memperbaiki
kinerja ekspor, sehingga ekspor di Indonesia dapat ditingkatkan.
3.4.3
Perkembangan Sosial
3.5 Masa
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
Partai demokrat yang sebelumnya kurang
di kenal, menarik perhatian masyarakat dengan pimpinannya jendral purnawirawan
Susilo Bambang Yudhoyono, yang dianggap memiliki karisma dan menjanjikan
perubahan kepada indonesia. Karisma yudhoyono berhasil menarik hati dan simpati
mayoritas pemilih dan akhirnya mengantarkannya sebagai pemenang pemilu presiden 2004.
Pelantikan presiden dan wakil presiden
baru Indonesia dilakukan oleh MPR pada tanggal 20 oktober 2004. Acara
pelantikan itu dihadiri pemimpin-pemimpin negara sahabat, yaitu perdana mentri
australia john howard,pedana menteri singapura lee hasien loong,perdana menteri
malaysia abdullah ahmad badwi,perdana menteri timor timur mari alkatiri,dan
sultam brunai darusllam hasanl bolkiah srta beberapa utusan dari negara lain.
3.5.1
Perkembangan Politik
Dalam pemilu legislatif 2004, partai
yang didirikan oleh SBY, yaitu Partai Demokrat, meraih 7,45% suara. Kemudian
pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan
dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya
sebagai presiden dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla.
Dalam masa kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla, beliau didukung oleh koalisi
dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan
dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang.
Kemudian di pemilu 2009, SBY kembali
menjadi calon presiden bersama pasangan barunya yaitu Boediono dan kembali
terpilih sebagai presiden Indonesia.
Pada periode kepemimpinannya yang
pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu yang merupakan kabinet
pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil
Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet Indonesia Bersatu dibentuk pada 21
Oktober 2004 dan masa baktinya berakhir pada tahun 2009. Pada 5 Desember 2005,
Presiden Yudhoyono melakukan perombakan kabinet untuk pertama kalinya, dan setelah
melakukan evaluasi lebih lanjut atas kinerja para menterinya, Presiden
melakukan perombakan kedua pada 7 Mei 2007.
Pada periode kepemimpinannya yang kedua,
SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II yang merupakan kabinet pemerintahan
Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden
Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan partai politik pengusul
pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan kursi di DPR (Partai
Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar yang bergabung
setelahnya, tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan
profesional. Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY
pada 21 Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya. Pada 19 Mei 2010, Presiden
SBY mengumumkan pergantian Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011,
Presiden SBY mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa
wajah baru masuk ke dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser jabatan
di dalam kabinet.
Konsep Trias Politika (Eksekutif,
Legislatif, Yudikatif) pada masa pemerintahan SBY mengalami perubahan
progresif, dimana konsep tersebut berusaha menempatkan posisinya berdasarkan
prinsip structural Sistem Politik Indonesia, yakini berdasarkan kedaulatan rakyat.
Pada masa pemerintahan SBY, hal tersebut benar-benar terimplementasikan, dimana
rakyat bisa memilih secara langsung calon wakil rakyat melalui Pemilu untuk
memilih anggota dewan legislaif, dan Pilpres untuk pemilihan elit eksekutif,
sekalipun untuk elit yudikatif, pemilihanya masih dilakukan oleh DPR dengan
pertimbangan presiden.
Di Indonesia sendiri, selama masa
pemerintahan SBY di tahun 2004-2009, sistem kepartaian mengalami perubahan yang
signifikan, dimana partai politik bebas untuk didirikan asalkan sesuai dengan
persyaratan dan ketentuan yang berlaku, serta tidak menyimpang dari hakikat
pancasila secara universal. Masyarakat Indonesia pun dapat memilih calon wakil
rakyat pilihan mereka secara langsung, hal tersebut tentu menunjukan apresiasi
negara terhadap hak dasar bangsa secara universal dalam konteks pembentukan
negara yang demokratis.
Politik pencitraan merupakan salah satu
senjata ampuh yang digunakan para pemimpin negara untuk mengambil hati
rakyatnya. Pola politik pencitraan tentu digunakan oleh hampir semua pemimpin
negara di dunia, termasuk Presiden SBY. Selaku pemimpin negara, ia tentu harus
membentuk citra dirinya sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata
masyarakat Indonesia. Dalam melakukan politik pencitraan tersebut, Presiden SBY
melakukanya dengan beberapa hal, yang terbagi dalam konteks internal dan
konteks eksternal.
Dalam konteks internal, politik
pencitraan SBY dilakukan dengan menggunakan kapabilitas internalnya, yakni
dengan kapabilitas retorika atau kemampuan berbicara di depan umum. Dari lima
jenis retorika yang dikemukakan Aristoteles, Presiden SBY dinilai
mengimplementasikan Retorika tipe Elucotio, dimana pembicara memilih kata-kata
dan bahasa yang tepat sebagai alat pengemas pesanya ketika berbicara di depan
umum. Selain hal tersebut, konteks internal disini berkaitan dengan sikap
bijak, kalem, dan legowo yang ditunjukan Presiden SBY kepada masyarakat, dimana
hal tersebut tentunya dapat berimplikasi terhadap penarikat rasa simpatik
masyarakat itu sendiri.
Dalam konteks eksternal, politik
pencitraan SBY dilakukan dengan beragam aspek, salah satunya adalah kampanye,
dan introduksi prestasi positif SBY selama memerintah Indonesia. Hal tersebut
tentu dapat memicu ketertarikan rakyat Indonesia akan keberhasilan SBY dan
menjadi simpatik atasnya.
3.5.2
Perkembangan Ekonomi
Pada pemerintahan SBY kebijakan yang
dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara Indonesia, atau menaikkan harga
Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin
akan tetapi bantuan tersebut diberhentikan sampai pada tangan rakyat atau
masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS kepada
sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam
kasus Bank Century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai
mengeluarkan biaya 93 miliar untuk menyelesaikan kasus Bank Century ini.
Kondisi perekonomian pada masa
pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca
krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan
pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan
meningkat menjadi 6-6,5 persen pada 2011. Dengan demikian prospek ekonomi
Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
Sementara itu, pemulihan ekonomi global
berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia.
Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada triwulan IV-2009 mencatat
pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan masih berlanjut
pada Januari 2010.
Salah satu penyebab utama kesuksesan
perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus
pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang Negara.Perkembangan yang
terjadi dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap
persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain masih tetap
ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh
lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas
ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki
pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di
bawah garis kemiskinan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi periode
2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding
pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata pemerintahan Soeharto (1990-1997)
yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Tetapi, dibanding kinerja Soeharto
selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja pertumbuhan
ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto
tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9,9%. Rata-rata pertumbuhan
ekonomi pemerintahan SBY-JK selama lima tahun menjadi 6,4%, angka yang
mendekati target 6,6%
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober
2005, dan sebelumnya Maret 2005, ternyata berimbas pada situasi perekonomian
tahun-tahun berikutnya. Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM
dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan harga minyak
dunia. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi Oktober 2005
mencapai 8,7% (MoM) yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun
2005 dan akhirnya ditutup dengan angka 17,1% per Desember 30, 2005 (YoY).
Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan
harga bahan makanan 18%.Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan
kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak
sepenuhnya efektif. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka
target inflasi APBNP II tahun 2005 sebesar 8,6%. Inflasi sampai bulan Februari
2006 (YoY) masih amat tinggi 17,92%, bandingkan dengan Februari 2005 (YoY)
7,15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya 4,6%.
Efek inflasi tahun 2005 cukup
berpengaruh terhadap tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang
menjadi referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan.
Data Harga Bahan Bakar Minyak 2004 vs
2009 (Naik)

Dengan kondisi harga minyak yang sudah
turun dibawah USD 50 per barel, namun harga jual premium yang masih Rp 4500 per
liter (sedangkan harga ekonomis ~Rp 3800 per liter). Maka sangat ironis bahwa
dalam kemiskinan, para supir angkot harus mensubsidi setiap liter premium yang
dibelinya kepada pemerintah. Sungguh ironis ditengah kelangkaan minyak tanah,
para nelayan turut mensubsidi setiap liter solar yang dibelinya kepada
pemerintah. Dalam kesulitan ekonomi global, pemerintah bahkan memperoleh
keuntungan Rp 1 triluin dari penjualan premium dan solar kepada rakyatnya
sendiri. Inilah sejarah yang tidak dapat dilupakan. Selama lebih 60 tahun
merdeka, pemerintah selalu membantu rakyat miskin dengan menjual harga minyak
yang lebih ekonomis (dan rendah), namun sekarang sudah tidak lagi rakyatlah
yang mensubsidi pemerintah.
Berdasarkan janji kampanye dan usaha
untuk merealisasikan kesejahteraan rakyat, pemerintah SBY-JK selama 4 tahun
belum mampu memenuhi target janjinya yakni pertumbuhan ekonomi rata-rata di
atas 6.6%. Sampai tahun 2008, pemerintah SBY-JK hanya mampu meningkatkan
pertumbuhan rata-rata 5.9% padahal harga barang dan jasa (inflasi) naik di atas
10.3%. Ini menandakan secara ekonomi makro, pemerintah gagal mensejahterakan
rakyat. Tidak ada prestasi yang patut diiklankan oleh Demokrat di bidang
ekonomi.

Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)
Secara alami, setiap tahun inflasi akan
naik. Namun, pemerintah akan dikatakan berhasil secara makro ekonomi jika
tingkat inflasi dibawah angka pertumbuhan ekonomi. Dan faktanya adalah inflasi
selama 4 tahun2 kali lebih besar dari
pertumbuhan ekonomi.

Selama 4 tahun pemerintahan, Demokrat
yang terus mendukung SBY tidak mampu mengendalikan harga barang dan jasa sesuai
dengan janji yang tertuang dalam kampanye dan RPM yakni rata-rata mengalami inflasi 5.4% (2004-2009)
atau 4.9% (2004-2008). Fakta yang terjadi adalah harga barang dan jasa meroket
dengan tingkat inflasi rata-rata 10.3% selama periode 2004-2008. Kenaikan harga
barang dan jasa melebihi 200% dari target semula.
Jumlah
Penduduk Miskin
Sasaran pertama adalah pengurangan
kemiskinan dan pengangguran dengan target
berkurangnya persentase penduduk tergolong miskin dari 16,6 persen pada
tahun 2004 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 dan berkurangnya pengangguran
terbuka dari 9,5 persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.

Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil
mencatat, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar
utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar
sepanjang sejarah RI.
Koalisi terdiri dari
Forum
Indonesia untuk Transparansi Anggaran
Perkumpulan
Prakarsa
Perhimpunan
Pengembangan Pesantren & Masyarakat (P3M)
Gerakan
Antipemiskinan Rakyat Indonesia
Lembaga
Advokasi Pendidikan Anak Marginal
Pusat
Telaah dan Informasi Regional
Asosiasi
pendamping Perempuan Usaha Kecil dan
Publish
What You Pay
Berdasarkan catatan koalisi, utang
pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31 persen dalam lima tahun terakhir.
Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun. Adapun posisi utang
Janusari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun. Apabila pada
tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari
2009 utang per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala. Memerhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang
ini adalah rezim anti-subsidi. Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara
drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari
produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi untuk kepentingan
rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB.
3.5.3
Perkembangan Sosial
Presiden SBY berhasil meredam berbagai
konflik di Ambon, Sampit dan juga di Aceh.
Pada masa pemerintahan ini, kehidupan
masyarakat mulai menuju kepada kehidupan individualis yang mengutamakan
kepentingan individu. Hal ini dapat dilihat dengan kurangnya sosialisasi
antarwarga di perkotaan.
Arus urbanisasi juga semakin marak.
Namun pemerintah tidak lagi mencanangkan transmigrasi.
Di pemerintahan SBY juga telah dibuat
undang-undang mengenai pornografi dan pornoaksi. Namun usaha ini tidak disertai
dengan penegakan hukum yang baik sehingga tidak terealisasi.
Meski konflik di beberapa daerah telah
diredam, namun kembali muncul berbagai konflik lagi seperti di Makassar. Bahkan
baru-baru ini terjadi tawuran antar-SMA di Jakarta yang membawa korban para
pejuang jurnalistik.
Dalam hal pelestarian budaya, di masa
pemerintahan SBY terlihat jelas kemundurannya. Terutama dengan banyaknya
warisan budaya asli Indonesia yang diklaim oleh pemerintah negara lain.
Contohnya sebagai berikut :
§ Klaim
Batik Jawa Oleh Adidas
§ Klaim
Angklung oleh Pemerintah Malaysia
§ Klaim
Gamelan oleh Pemerintah Malaysia
§ Badik
Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
§ Naskah
Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
§ Naskah
Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
§ Naskah
Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
§ Naskah
Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
§ Rendang
dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
§ Sambal
Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
§ Sambal
Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
§ Sambal
Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
§ Tempe
dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
§ Lagu
Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
§ Tari
Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
§ Lagu
Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
§ Lagu
Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
§ Tari
Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
§ Tari
Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
§ Lagu
Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
§ Lagu
Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
§ Kursi
Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah
§ Pigura
Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah
§ Motif
Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
§ Desain
Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
§ Produk
Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
§ Badik
Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
§ Kopi
Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
§ Kopi
Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
§ Musik
Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
§ Kain
Ulos oleh Malaysia
§ Lagu
Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
§ Tari
Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia
Namun di masa ini, terdapat keberhasilan
dengan pengakuan dari UNESCO bahwa batik Indonesia adalah warisan budaya
Indonesia.
No comments:
Post a Comment