Sunday, October 20, 2013

Asam - Basa

I.                   Landasan Teori
a.      Pengertian Teori Asam-Basa
a.      Menurut Arrhenius
-          Asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+.
-          Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion OH-.
Kelebihan :
Arrhenius mampu menjelaskan proses netralisasi lebih baik dibanding  teori-teori sebelumnya dan berhasil menerangkan aktivitas katalis dari asam dalam reaksi-reaksi tertentu.
Kelemahan :
Arrhenius hanya terbatas pada pelarut air dan Arrhenius tidak bisa mengenali senyawa lain sebagai basa kecuali yang menghasilkan OH-. Keterbatasan Arrhenius dalam  menerangkan sifat-sifat asam - basa mendorong munculnya teori asam – basa:

b.      Menurut Bronsted-Lowry
-          Asam adalah zat yang dapat member proton (donor ion H+).
-          Basa adalah zat yang dapat menerima proton (akseptor ion H+).
Kelebihan :
            Setiap zat tidak ada yang bersifat netral. Menurut Bronsted-Lowry, setiap zat akan bersifat asam/basa bergantung pada apakah zat tersebut menerima atau melepaskan proton (ion H+). Teori asam-basa Bronsted-Lowry bersifat luas, tidak hanya bergantung pada pelepasan ion H+ atau ion OH-. Misalnya, senyawa NH3 ­­atau ion NH2­­-. Senyawa tersebut sukar ditentukan sifat asam atau basa jika berdasarkan teori asam-basa Arrhenius. Adapun berdasarkan teori asam-basa Bronsted-Lowry, senyawa NH­3 atau ion NH2- dapat ditentukan sifatnya sesuai pasangan reaksinya.
Kelemahan :
            Untuk pelarut yang tidak mengandung proton tidak dapat digunakan. Selain itu, sifat suatu zat tidak pasti, sangat bergantung pada pasangan reaksinya. Misalnya, air dapat bersifat basa jika bereaksi dengan CH3COOH dan bersifat asam jika bereaksi dengan NH3.
c.       Menurut Lewis
-          Asam adalah ion atau molekul yang dapat bertindak sebagai penerima (akseptor) pasangan electron.
-          Basa adalah ion atau molekul yang dapat bertindak sebagai pemberi (donor) pasangan electron.
Kelebihan :
            Dapat menggambarkan asam-basa yang tidak dapat digambarkan oleh Arrhenius dan Bronsted-Lowry. Teori asam-basa Lewis memperluas pengertian asam-basa. Menurut Lewis, asam-basa bukan hanya pelepasan ion H+/OH- atau transfer proton (ion H+), melainkan senyawa yang reaksinya melibatkan pasangan electron.
Kelemahan :
            Teori Lewis agak sukar menggambarkan reaksi asam-basa, seperti reaksi antara ion Fe3+ dan ion CN­- karena keduanya tidak melibatkan ion H+  atau ion OH-. Selain itu, teori ini juga agak sukar menentukan kekuatan asam atau basa dari reaksi yang terjadi.

b.      Ciri-ciri Larutan Asam-Basa
a.       Larutan Asam
-          Rasa masam jika dicicipi (jangan menguji asam kuat dengan mencicipinya)
-          Derajat keasaman lebih kecil dari 7 (pH < 7)
-          Terasa menyengat jika disentuh, terutama asam kuat
-          Reaksi dengan logam bersifat korosif (menyebabkan karat, dapat pula merusak jaringan kulit/iritasi dan melubangi benda yang terbuat dari kayu atau kertas jika konsentrasinya tinggi)
-          Merupakan larutan elektrolit sehingga dapat menghantarkan arus listrik.
b.      Larutan Basa
-              Rasa pahit jika dicicipi
-              Dalam keadaan murni umumnya berupa kristal padat
-              Tingkat keasaman lebih besar dari 7 (pH > 7)
-              Terasa licin di kulit (jangan menguji basa kuat dengan menyentuhnya)
-              Memiliki sifat kaustik yaitu merusak kulit jika kadar basanya tinggi
-              Dapat mengemulsi minyak
-              Merupakan elektrolit, larutannya dapat menghantarkan arus listrik

c.       Pengujian Larutan Asam-Basa
Larutan asam-basa dapat diuji menggunakan 4 indikator :
1.      Indikator Alami
Indikator alami merupakan bahan-bahan alam yang dapat berubah warnanya dalam larutan asam, basa, dan netral. Indikator alami yang biasanya dilakukan dalam pengujian asam basa adalah tumbuhan yang berwarna mencolok, berupa bunga-bungaan, umbi-umbian, kulit buah, dan dedaunan.
Perubahan warna indikator bergantung pada warna jenis tanamannya, misalnya :
Ø  kembang sepatu merah di dalam larutan asam akan berwarna merah dan di dalam larutan basaakan berwarna hijau,
Ø  kol ungu di dalam larutan asam akan berwarna merah keunguan dan didalam larutan basa akan berwarna hijau,
Ø  kulit manggis pada keadaan netral berwarna ungu, jika ditetesi larutan asam, maka menjadi cokelat kemerahan dan jika ditetesi larutan basa akan berubah menjadi biru kehitaman.
2.      Lakmus
Untuk mengetahui larutan bersifat Asam, Basa, Netral diperlukan alat yang berupa indikator, berupa kertas lakmus . Ada 2 kertas lakmus yaitu, kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru.
Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan :
-          Larutan yang bersifat Asam, akan mengubah lakmus biru menjadi merah, dan kertas lakmus merah tetap merah.
-          Larutan yang bersifat Basa, akan mengubah lakmus merah menjadi biru, dan kertas lakmus biru tetap menjadi biru.
-          Larutan yang bersifat Netral tidak mengubah lakmus merah atau kertas lakmus biru tetap menjadi biru.
3.      Indikator Universal
Indikator universal, campuran dari beberapa indikator yang memiliki perubahan warna berbeda, sehingga semua perubahan warna itu menyatu dan sebagai hasilnya, indikator universal ini memiliki perubahan dari merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu atau disingkat mejikuhibiniu.
Cara menggunakan indikator universal adalah:
-          Mencelupkan kertas indikator universal dalam larutan yang akan diselidiki pH-nya atau menambahkan beberapa tetes indikator universal dalam larutan yang diselidiki pH-nya,
-          Mengamati perubahan warna dan membandingkan dengan warna standar.
4.      Indikator Fenolftalein (PP), Metil Orange (MO), Metil Red (MR), dan Bromtimol Biru (BTB)
No.
Indikator
Trayek pH
Perubahan Warna
1
Fenolftafelin (PP)
8,3 – 10,0       
tak berwarna ke merah
2
Metil Orange (MO)
3,1 – 4,4
merah ke kuning
3
Metil Red (MR)
4,4 – 6,2         
merah ke kuning
4
Bromtimol Biru (BTB)
6,0 – 7,6         
kuning ke biru









II.                Alat dan Bahan
a.      Alat :
-          Rak
-          Tabung reaksi
-          Gelas kimia / beker gelas
-          Kaki tiga
-          Kasa
-          Plat tetes
-          Pipet tetes
-          Lumping dan alu porselen
b.      Bahan :
-          Lakmus merah dan biru
-          Larutan A, B, C, dan D
-          Aquadest
-          Indokator alami

III.             Prosedur / Cara Kerja
A.    Uji Larutan dengan Indikator Alami
1.      Memanaskan 25 ml aquadest hingga hamper mendidih. Memasukkan indicator alami yang sudah ditumbuk halus kemudian diaduk hingga merata. Membiarkan sampai dingin. Meneteskan 10 tetes larutan indicator alami tersebut pada plat tetes. Mengamati warnanya dan mencatatnya pada table pengamatan.
2.      Menaruh 10 tetes larutan A dalam plat tetes. Kemudian menetesi larutan tersebut dengan 4 tets larutan indicator alami. Mengamati perubahan warnanya dan mencatat hasilnya pada table pengamatan.
3.      Mengulangi langkah 2 dengan larutan B, C, dan D.
4.      Mengulangi langkah 1, 2, dan 3 untuk indicator alami yang lain.



B.     Uji Larutan dengan Kertas Lakmus
1.      Mengambil indicator kertas lakmus merah dan biru 0,5 cm dan masing-masing dimasukkan dalam plat tetes. Kemudian ditetesi dengan larutan A. mengamati perubahan warnanya dan mencatat hasilnya pada table pengamatan.
2.      Mengulangi langkah 1 dengan larutan B, C, dan D.
C.    Uji Larutan dengan Indikator Universal
1.      Menaruh 10 tetes larutan A dalam plat tetes. Kemudian memasukkan indicator universal dalam larutan tersebut. Mengamati perubahan warna indicator universal dan mencocokkan warnanya dengan warna pada skala pH. Mencatat hasilnya pada table pengamatan.
2.      Mengulangi langkah 1 dengan larutan B, C, dan D.
D.    Uji Larutan dengan Indikator Fenolftalein (PP), Metil Orange (MO), Metil Red (MR), dan Bromtimol Biru (BTB)
1.      Menaruh 10 tetes larutan A dalam plat tetes. Kemudian menetesi larutan dengan 2 tets indicator Fenolftafelin. Mengamati perubahan warnanya dan mencatat hasilnya pada table pengamatan.
2.      Mengulangi langkah 1 dengan larutan B, C, dan D.
3.      Mengulangi langkah 1 dan 2 untuk indicator Metil Orange, Metil Red, dan Bromtimol Biru











IV.             Pembahasan
A.    Hasil Pengamatan
1.      Uji Larutan dengan Indikator Alami
No
Indikator Alami
Perubahan Warna
Aquadest
Larutan A
Larutan B
Larutan C
Larutan D
1
Bunga Sepatu Merah
Ungu
Kuning
Merah
Merah Bata
Ungu
2
Bunga Evorbia Merah
Merah Muda
Kuning
Merah
Merah
Merah
3
Kunyit
Oranye
Oranye
Kuning
Kuning
Kuning

2.      Uji Larutan dengan Kertas Lakmus dan Indikator Universal
No
Larutan
Perubahan Warna Lakmus
Indikator Universal
Keterangan
(asam / basa / netral)
Merah
Biru
pH
1
A
Biru
Biru
14
Basa
2
B
Merah
Merah
1
Asam
3
C
Merah
Merah
3
Asam
4
D
Merah
Ungu
6
Netral

3.      Uji Larutan dengan Indikator Fenolftalein (PP), Metil Orange (MO), Metil Red (MR), dan Bromtimol Biru (BTB)
No
Larutan
Perubahan Warna
PP
MO
MR
BTB
1
A
Ungu
Oranye
Kuning
Biru
2
B
Tidak Berwarnah
Merah Bata
Merah Muda
Kuning
3
C
Tidak Berwarna
Merah
Merah Muda
Kuning
4
D
Tidak Berwarna
Oranye Pekat
Oranye
Hijau





B.     Analisis
1.      Uji Larutan dengan Indikator Alami
Ø  Bila bunga sepatu yang telah ditumbuk (dihaluskan) diberi aquadest, warnanya akan menjadi ungu.
Ø  Bila evorbia yang telah ditumbuk (dihaluskan) diberi aquadest, warnanya akan menjadi merah muda.
Ø  Bila kunyit yang telah ditumbuk (dihaluskan) diberi aquadest, warnanya akan menjadi oranye.
Ø  Bila larutan A ditetesi larutan bunga sepatu merah, maka warnanya akan menjadi kuning. Berarti larutan A adalah Basa.
Ø  Bila larutan B ditetesi larutan bunga sepatu merah, maka warnanya akan menjadi Merah. Berarti larutan B adalah Asam.
Ø  Bila larutan C ditetesi larutan bunga sepatu merah, maka warnanya akan menjadi merah bata. Berarti larutan C adalah Asam.
Ø  Bila larutan D ditetesi larutan bunga sepatu merah, maka warnanya akan menjadi ungu. Berarti larutan D adalah Netrel.
Ø  Bila larutan A ditetesi larutan bunga evorbia, maka warnanya akan menjadi kuning. Berarti larutan A adalah Basa.
Ø  Bila larutan B ditetesi larutan bunga evorbia, maka warnanya akan menjadi merah. Berarti larutan A adalah Asam.
Ø  Bila larutan C ditetesi larutan bunga evorbia, maka warnanya akan menjadi merah. Berarti larutan C adalah Asam.
Ø  Bila larutan D ditetesi larutan bunga evorbia, maka warnanya akan menjadi merah. Berarti larutan D adalah Netral.
Ø  Bila larutan A ditetesi larutan kunyit, maka warnanya akan menjadi oranye. Berarti larutan A adalah Basa.
Ø  Bila larutan B ditetesi larutan kunyit, maka warnanya akan menjadi kuning. Berarti larutan B adalah Asam.
Ø  Bila larutan C ditetesi larutan kunyit, maka warnanya akan menjadi kuning. Berarti larutan C adalah Asam.
Ø  Bila larutan D ditetesi larutan kunyit, maka warnanya akan menjadi kuning. Berarti larutan D adalah Netral.
2.      Uji Larutan dengan Kertas Lakmus dan Indikator Universal
Ø  Kertas lakmus merah bila ditetesi dengan larutan A, berubah menjadi biru. Kertas lakmus biru bila ditetesi dengan larutan A, berubah menjadi biru. Sehingga, larutan A adalah Basa.
Ø  Kertas lakmus merah bila ditetesi dengan larutan B, berubah menjadi merah. Kertas lakmus biru bila ditetesi dengan larutan B, berubah menjadi merah. Sehingga, larutan B adalah Asam.
Ø  Kertas lakmus merah bila ditetesi dengan larutan C, berubah menjadi merah. Kertas lakmus biru bila ditetesi dengan larutan C, berubah menjadi merah. Sehingga, larutan C adalah Asam.
Ø  Kertas lakmus merah bila ditetesi dengan larutan D, berubah menjadi merah. Kertas lakmus biru bila ditetesi dengan larutan D, berubah menjadi ungu. Sehingga, larutan D adalah Netral.
Ø  Bila indicator universal dicelupkan pada larutan A dan hasilnya dicocokkan pada kertas indicator universal, larutan A mempunyai pH 14.
Ø  Bila indicator universal dicelupkan pada larutan B dan hasilnya dicocokkan pada kertas indicator universal, larutan B mempunyai pH 1.
Ø  Bila indicator universal dicelupkan pada larutan C dan hasilnya dicocokkan pada kertas indicator universal, larutan C mempunyai pH 3.
Ø  Bila indicator universal dicelupkan pada larutan D dan hasilnya dicocokkan pada kertas indicator universal, larutan D mempunyai pH 6.
3.      Uji Larutan dengan Indikator Fenolftalein (PP), Metil Orange (MO), Metil Red (MR), dan Bromtimol Biru (BTB)
Ø  Bila larutan A1 ditetesi dengan PP menjadi ungu,
Bila larutan A2 ditetesi dengan MO menjadi oranye,
Bila larutan A3 ditetesi dengan MR menjadi kuning,
Bila larutan A4 ditetesi dengan BTB menjadi biru,
Maka, larutan A adalah Basa.
Ø  Bila larutan B1 ditetesi dengan PP menjadi tidak berwarna,
Bila larutan B2 ditetesi dengan MO menjadi merah bata,
Bila larutan B3 ditetesi dengan MR menjadi merah muda,
Bila larutan B4 ditetesi dengan BTB menjadi kuning,
Maka, larutan B adalah Asam.
Ø  Bila larutan C1 ditetesi dengan PP menjadi tidak berwarna,
Bila larutan C2 ditetesi dengan MO menjadi merah,
Bila larutan C3 ditetesi dengan MR menjadi merah muda,
Bila larutan C4 ditetesi dengan BTB menjadi kuning,
Maka, larutan C adalah Asam.
Ø  Bila larutan D1 ditetesi dengan PP menjadi tidak berwarna,
Bila larutan D2 ditetesi dengan MO menjadi oranye pekat,
Bila larutan D3 ditetesi dengan MR menjadi oranye,
Bila larutan D4 ditetesi dengan BTB menjadi hijau,
Maka, larutan A adalah Netral.

V.                Kesimpulan
A.    Percobaan dengan Indikator Alami
Ø  Larutan A setelah ditetesi indicator alami menunjukkan bahwa larutan A adalah Basa.
Ø  Larutan B setelah ditetesi indicator alami menunjukkan bahwa larutan B adalah Asam.
Ø  Larutan C setelah ditetesi indicator alami menunjukkan bahwa larutan C adalah Asam.
Ø  Larutan D setelah ditetesi indicator alami menunjukkan bahwa larutan D adalah Netral.
B.     Percobaan dengan Kertas Lakmus
Ø  Kertas lakmus setelah dicelupkan ke larutan A menunjukkan bahwa larutan A adalah Basa.
Ø  Kertas lakmus setelah dicelupkan ke larutan B menunjukkan bahwa larutan B adalah Asam.
Ø  Kertas lakmus setelah dicelupkan ke larutan C menunjukkan bahwa larutan C adalah Asam.
Ø  Kertas lakmus setelah dicelupkan ke larutan D menunjukkan bahwa larutan D adalah Netral.
C.     Percobaan dengan Indikator Universal
Ø  Indikator universal setelah ditetesi dengan larutan A menunjukkan bahwa larutan A adalah Basa.
Ø  Indikator universal setelah ditetesi dengan larutan B menunjukkan bahwa larutan B adalah Asam.
Ø  Indikator universal setelah ditetesi dengan larutan C menunjukkan bahwa larutan C adalah Asam.
Ø  Indikator universal setelah ditetesi dengan larutan D menunjukkan bahwa larutan D adalah Netral.
D.    Percobaan dengan Indikator Fenolftalein (PP), Metil Orange (MO), Metil Red (MR), dan Bromtimol Biru (BTB)
Ø  Larutan A setelah ditetesi PP, MO, MR, dan BTB menunjukkan bahwa larutan A adalah Basa.
Ø  Larutan B setelah ditetesi PP, MO, MR, dan BTB menunjukkan bahwa larutan B adalah Asam.
Ø  Larutan C setelah ditetesi PP, MO, MR, dan BTB menunjukkan bahwa larutan C adalah Asam.
Ø  Larutan D setelah ditetesi PP, MO, MR, dan BTB menunjukkan bahwa larutan D adalah Netral.





DAFTAR PUSTAKA

Sutresna, Nana.2007.Cerdas Belajar Kimia Kelas XI.Bandung: Grafindo.

















Lampiran :




           


            
           


No comments:

Post a Comment